Banyak yang bisa kita pelajari dari sejarah. Sejarawan Inggris, Sir John Silley pernah mengatakan “We study history that we wise before the event” (Kita belajar sejarah agar bertindak bijaksana sebelum terjadinya peristiwa). Begitu penting bagi kita menengok kembali peristiwa lampau agar yang buruk tidak menimpa kita lagi sehingga kita tidak seperti keledai yang terjerumus di lubang yang sama.

Persatuan adalah hal mutlak yang patut diperjuangkan. Komponen pembentuknya yaitu empati yang tetap layak untuk dipersembahkan, walau pada musuh sekalipun. Sebagaimana Salahuddin (seorang muslim dan tokoh dalam perang Salib), dengan segala ketinggian aqidah dan loyalitasnya yang membaja pada kebenaran, tetap saja bisa bersikap lembut kepada orang lain, dengan dasar kemanusiaan.

Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi adalah seorang panglima dan pahlawan muslim yang tidak asing lagi. Ia juga pendiri dinasti Ayubiah di Mesir dan terkenal sebagai ahli ilmu Islam. Perang antara tentara Islam dan tentara Salib, mengisi lembaran perjuangan Salahuddin. Setelah Baitulmaqdis (Yerusallem) dikuasai Salahuddin, Paus Gregory langsung mengumandangkan perang Salib. Seruan itu disambut raja dan masyarakat Eropa. Di kemudian hari, perang itu diteruskan oleh Clement III, pengganti Gregory. Tak ketinggalan pula, Raja Philip II (Perancis) dan Raja Richard I (The Lion Hearted, raja Inggris) langsung memimpin pasukan.

Bagian yang paling menarik dalam pertempuran ini adalah ketika di sela pertempuran Raja Richard jatuh sakit. Pertempuran untuk sementara dihentikan. Sewaktu ia terbaring lemah, para pemimpin di bawahnya cekcok. Mereka memperebutkan kedudukan Richard, semuanya “bersiap-siap” menggantikan kedudukannya sebagai panglima perang, kalau ia akhirnya meninggal. Richard memang tak kunjung sembuh. Dan sungguh di luar dugaan, tiba-tiba datang dokter Muslim utusan Salahuddin mengobati penyakit Richard.

Richard akhirnya menerima pengobatan itu dan akhirnya sembuh. Betapa mengherankan dan menimbulkan simpati mendalam sikap Salahuddin di mata Richard. Di saat anak buahnya bertengkar memperebutkan posisinya, musuhnya malah mengupayakan kesembuhannya.

Pada dasarnya, Salahuddin memang memiliki toleransi tinggi terhadap agama lain. Sekali lagi sebuah contoh yang patut kita tiru di tengah merebaknya gejala disintregasi bangsa akibat konflik antaragama di Indonesia.