Setiap kita mendambakan kebahagiaan. Dalam bentuk apapun. Adalah merupakan kemurahan Allah, ketika ia menjadikan salah satu sumber kebahagiaan itu –dalam ukuran duniawai- adalah harta. Karenanya di saat Allah SWT menyuruh manusia mengejar kehidupan akherat, pada saat itu pula ia mengiringinya dengan perintah untuk tidak melupakan bagiannya dari kesenangan dunia.
Dalam konteks kebutuhan, setiap jaman memiliki tantangannya sendiri. Termasuk tantangannya dalam soal rezeki. Setiap masa punya kesulitannya yang berbeda. Tetapi begitupun, semua jaman memiliki kesamaan, bahwa rezeki sangat diperlukan untuk menopang kelangsungan hidup. Untuk makan, minum, membangun tempat berteduh, membeli pakaian untuk menutup aurat, membiayai pendidikan, bersedekah, dan lain sebagainya.
Dalam beberapa ayat lain di dalam Al Qur’an, bahkan dijelaskan tentang paradigma kecukupan untuk anak keturunan. Ketika Allah mengingatkan agar kita tidak meninggalkan mereka dalam kesulitan secara materi. Atas dasar semua pengertian di atas, kita membingkai harapan akan melimpahnya rezeki dan karunia yang halal. Melalui berbagai upaya yang proporsional. Beberapa langkah berikut, barangkali bisa menjadi bahan pertimbangan.
Pertama, Terus dan Teruslah Berusaha
Kita tidak pernah tahu takdir kita. Rezeki kita adalah bagian dari takdir yang tersembunyi. Seperti halnya jodoh dan usia. Tidak satu pun dia antara kita yang tahu kapan saatnya datang dan kapan saatnya pergi. Semua sudah ditentukan jatahnya masing-masing. Tidak ada yang luput dari kasih sayang Allah. Binatang di dasar lautan pun akan mendapat jatah rizkinya sampai jatah umurnya habis. Karena kita tidak pernah tahu taqdir kita, maka tugas kita adalah berusaha menelusuri lorong takdir kita masing-masing.
Kedua, Perbanyak Istigfar
Di dunia ini ada hal-hal yng bisa kita pahami. Tapi ada pula hal-hal yang harus kita imani, meski ia tidak bisa kita pahami. Kita bisa memahami dan menganalisa mengapa usaha kita bangkrut. Mengapa krisis negeri ini tak kunjung membaik. Tetapi ada unsur-unsur yang hanya bisa diimani. Karena memang tidak setiap yang ada mampu dijangkau oleh indera kita. Hal itu juga berlaku untuk urusan rezeki. Kita menyadari betul, bahwa tidak semua usaha dan rencana kita berhasil. Tidak selamanya keinginan kita sesuai dengan kenyataan lahir kemudian. Ini adalah bukti nyata bahwa ada unsur-unsur lain yang berperan dalam menentukan nasib ini. Di antara bentuk memahami sisi keimanan dalam mendatangkan rezeki, adalah menjadikan istigfar sebagai salah satu kekuatan untuk memohon kemurahan rezeki.
Ketiga, Tunaikan Hak Kita
Pada harta kita ada hak orang lain, Seorang mukmin selalu merasa bahwa kenikmatan hartanya tidak hanya dirasakan sendiri. Sebab ada kewajiban yang harus ditunaikan. Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)” (QS. Al Ma’arij : 24-25)
Keempat, Perbanyak Silaturrahmi
Sepintas, mungkin terkesan tak ada hubungan langsung antara rezeki dengan silaturahmi. Tapi inilah rahasia lain seputar rezeki, selain rahasia istigfar dan hubungannya dengan rezeki. Rasulullah SAW menjelaskan rahasia ini untuk kita, “Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan usianya sambunglah silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kelima, Pertebal Kekuatan Tawakal
Suatu hari Rasulullah menggambarkan bagaimana indahnya bertawakal. “Kalau kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, pasti Allah akan memberimu rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung. Ia pergi di pagi hari dengan perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut kenyang,” begitu nasehat Rasulullah, seperti diriwayatkan Ibnu Majah. Tawakal burung? Ya. Tawakal burung adalah kepasrahan kepada Allah yang menjadi jiwa bagi sebuah usaha sungguh-sungguh. Berangkat di pagi hari dan pulang di sore hari adalah sebagian dia antara perlambang kesungguhan itu. < Tarbawi 34/4

No comments yet
Comments feed for this article