Akhir-akhir ini aku semakin menyadari, sekitar rumah begitu riuh oleh adik-adik kecil tetangga yang bermain layang-layang dan berbagai dolanannya (delikan, jek-jekan, balapan pit, nekeran, dll). Jumlah mereka cukup banyak, hanya sekitaran tetangga saja total ada lebih dari 15-an anak, belum yang agak jauh tapi masih satu RW (melingkupi 2 RT), jumlah mereka bisa mencapai 50 orang. Rata-rata berumur 2-7 tahun. Tentu yang masih kecil bermain bersama ibunya. Tidak adanya kawasan publik yang bisa menjadi tempat bermain anak-anak menjadikan mereka bermain dari gang ke gang. Balap sepeda meliuk-liuk di gang yang tak lebih dari 1 meter, bahkan kadang cuma melewati gang 0,6 meter sudah biasa dan lihai.
Ketika sedang di depan rumah, Asnan seorang anak berumur 3 tahun yang kesana-kemari berlari berusaha menerbangkan layangannya, berhenti di depanku. “Mas-mas, kapan TPA lagi?” Spontan kujawab, “Lha kan Asnan nggak pernah berangkat?” Asnan pun segera menimpali, “Lha di masjid TPAnya nggak ada kok mas?” Deg… Duh bener juga T_T. Cerdas juga nih anak… ^_^
Sudah beberapa tahun ini TPA hanya ada pas Ramadhan saja. Habis itu macet. Padahal kita bisa baca Qur’an juga gara-gara TPA. TPA paling meriah ya sewaktu aku kecil. Pengelolaannya profesional, sampai ada seragam, acara wisuda dan piknik ke Bonbin Gembiraloka bareng-bareng naik andong. Seru sekali TPA waktu itu. Orang tua mendukung penuh 100% agar anaknya ke Masjid. Ketika suatu saat aku mbolos TPA gara-gara nonton kampanye parpol (tahun 1992-an) di pingir jalan depan rumah, pernah dicubit sama bapak, sakit sekali, nggak boleh mbolos! Sekarang dukungan orang tua memang harus lebih ditingkatkan lagi karena selama ini kendalanya memang di situ. Orang tua memberi les yang lain, tapi tidak untuk les ngaji/belajar baca Qur’an.
Semoga ke depan permintaan si-kecil ini bisa kita wujudkan… Insya Allah ya dik…. 4 zh

No comments yet
Comments feed for this article