kereta-api-progoJogja-Jakarta, jarak yang biasanya ditempuh dengan KA Progo dari Stasiun Lempuyangan Jogja selama 10 jam, kali ini harus 12 jam ditempuh, baru sampai ke Stasiun Senin. Apalagi esok (5 Januari), hari pertama masuk kerja setelah libur panjang. Temanku yang ngantri pun sejak jam 04.00 pagi sehari sebelumnya, padahal loket tiket kelas 3 (ekonomi) dibuka pukul 09.00. Bahkandi depan antrian temenku,  ada yang rela antri sejak jam 03.00 pagi hanya untuk mendapat tempat duduk di perjalannanya ke Jakarta. Tiket pun tidak terlalu mahal, yaitu seharga Rp 38 ribu. Yang berdiri harganya juga sama, jadi jelas pada milih duduk, 12 jam berdiri tentunya “siksaan” tersendiri.

Ya, masalah tempat duduk bisa membuat orang menjadi egois, tidak tahu malu dan tingkahnya sulit dinalar. Rela-relanya antri sepagi itu, ada juga yang berani-beraninya menyerobot antrian, yang tidak punya tiket duduk pun sengaja ngajak rebut, diingatkan empunya tempat duduk, Eee malah marah-marah, dan cuek bebek. Ada yang dari berangkat sudah menggelar korannya dan tidur pulas di tengah jalan, tidak peduli bahwa dengan tidurnya, maka 5 tempat berdiri dihabiskan untuk jadi tempat rebahan. Gara-gara tidurnya itu, dini hari ia terbangun sampai pagi karena kepanasan.

Kaca Jendela pun Beruap

Karena banyaknya penumpang, bahkan selalu bertambah dari pemberhentian satu ke yang lain, di Kutoarjo, pintu KA sudah tidak dibuka lagi. Sudah penuh sesak, bahkan sekedar di depan WC pun sudah ‘berpenghuni’. Pintu digedor pun tetap tidak dibuka. Setiap pemberhentian itulah, panas begitu terasa, gerah! Saking panasnya, kaca jendela sampai beruap dan bisa ditulisi. Bahkan, teman depanku ganti baju yang lebih tipis, karena nggak tahan panasnya. Banyaknya orang dalam 1 gerbong, bahkan untuk jongkok pun tidak bias, tetap membuat masyarakat tidak kapok menggunakan KA Ekonomi ini. “Lha gimana lagi, Lha kebutuhan mas”, terpaksa! Begitu seorang penumpang menjawab. “Kalo sedikit punya uang, tentunya milih naik KA Bisnis, walau tetap masih berdiri tapi tidak sesumpek KA Ekonomi ini.”

Fasilitas KA yang minim tampaknya kurang dirasakan pengambil kebijakan yang ada saat ini. Lha sudah lama seperti ini, masih saja begini. Tambah parah kejadiannya. Memang sudah ada usaha membuat rel ganda, tapi sampai sekarang belum tuntas, slah satunya karena pembebasan lahan yang sulit. Jadi terbayang, andai pemimpin kita merasakan KA ini ya, pasti akan merasakan hal yang sama, ruwet, panas, sumpek, kotor, molor, dan umpatan lainnya ^_^. Sayangnya, pejabat-pejabat itu kebanyakan hanya merasakan KA pas persemian saja, atau pas peninjauan yang jelas sudah ‘diatur’ lebih baik. Yah, kita ingin adanya perbaikan.

Banyak yang Tidak Sholat

Kondisi yang penuh sesak, berpeluh membuat ruang gerak tidak memungkinkan untuk sholat. Sebelum terlalu padat, beberapa penumpang ketika mendengar adzan segera melakukan sholat Maghrib jama’ dengan Isya. Yang belum batal, langsung sholat, yang batal, tentu tayamum terlebih dulu. Sayangnya, sampai Subuh, kebanyakan penumpang, termasuk teman saya tidak sholat. Bahkan ada seorang penumpang ketika ditanya kenapa tidak sholat magrib-Isya semalam? Ia menjawab bahwa terpaksa. Bagaimana mau sholat, lha disampingnya ada perempuan, lha batal terus donk kalau bersenggolan. Akhirnya milih nggak sholat. Duh Gusti!!! #$@! Paringono pangapunten….

Perjalanan dengan KA, membuat banyak orang lalai. Bisa jadi karena tidak tahu, bias jadi karena meremehkan. Ada yang tidak tahu bagaimana caranya sholat dalam kendaraan, juga tidak tahu caranya tayamum, namun lebih banyak yang memang tidak mau tahu. Sebetulnya, apa susahnya sih cari informasi?… Atau kita yang tahu memang harusnya mengingatkan itu…

Sedikitnya ada 8 hal yang harus diperbaiki :

1. Kondisi KA yang tua dan tidak terawat, diremajakan

2. Adanya batasan penumpang dalam tiap gerbong (yang duduk maupun berdiri) dan penerapan sistem informasi terintegrasi antar stasiun, sehingga jangan sampai KA sudah penuh, tapi tetap dijejali terus dengan penumpang dari stasiun ke stasiun. Yang tidak terangkut akhirnya marah dan melempari jendela dengan batu.

3. Kipas angin dalam gerbong diperbanyak sehingga pertukaran udara lancar

4. Adanya kamar mandi yang bersih dan jumlahnya memadai.

5. Adanya mikrofon dan mengumangkan adzan sewaktu jadwal sholat tiba dan himbauan-himbauan kepada penumpang di setiap gerbong

6. Tidak adanya pengamen dan penjual yang bebas keluar masuk sehingga menyebabkan KA seperti pasar. Jual beli lewat jendela saja

7. Pemberhentian pada stasiun-stasiun yang perlu saja dan tidak terlalu lama

8. Adanya tempat sampah di sudut dan tengah gerbong, sehingga yang membuang sembarangan harus dikenai sanksi, missal diturunkan di pemberhentian terdekat…. ^_^ agak kejem sih, tapi biarin, biar kapok.