Isu teroris sungguh memojokkan umat Islam. Apalagi di Kota Batu, yang pernah menjadi tempat digrebeknya Dr. Azahari (disini, dan disini), kewaspadaan itu masih terasa. Beruntung aku mendapatkan kost yang lingkungannya bagus dan di samping pak RT. Jadi tidak bermasalah.Apalagi memang komunikasi selama ini terjalin bagus, bahkan sangat bagus.
Nah, ada kejadian menarik. Beberapa waktu yang lalu ketika sholat maghrib di sebuah masjid di Kota Batu (dekat alun-alun), sehabis sholat saat hendak pulang, saya menyempatkan ngobrol sebentar dengan salah seorang jamaah. Ia seorang pemuda, yah kira-kira 30-an tahun umurnya. Ia adalah warga setempat yang sejak sebelum Ramadhan 1430 H yang lalu rajin ke masjid, termasuk sholat Subuh. Setidaknya katanya ada 2 orang lagi yang mulai rajin setelah selama ini jarang mampir ke masjid. Biasanya, sebelumnya mereka memang sering lalai sama sholatnya.
Tapi anehnya justru dengan rajinnya ke masjid itulah ia disindir beberapa temannya, “Eh, Tole (nama samaran), kok sekarang rajin sholat ke Masjid? Subuhannya tertib lagi! Jangan-jangan kalian ikut aliran yang macam-macam itu ya?” Hati-hati lho nanti jadi teroris! Senengnya ngebom-ngebom! Santai aja, nanti kita siapkan 3 peti mati untuk kalian… Hahaha”
Yah, karena masih temen sepermainan, si Tole tadi jawabnya juga santai aja, “Wah, jangan2 nanti malah buat kalian tuh peti! walaupun guyonan kampung, Tapi jelas, perasaan hatinya pasti miris. Orang yang mau berubah baik kok justru dicap teroris dan dianggap aneh bin nyleneh. Ciri teroris sungguh sangat dekat dengan umat Islam yang rajin ke masjid pada umumnya, menjadi guru TPA, berpakaian busana muslim, santun, ramah, pintar bergaul, dan jelas rajin ke masjid. Oleh karena itu masyarakat sukanya men-generalisirdari info-info yang kurang lengkap dan akurat.
Oalah… dunia wis kuwalik!

1 comment
Comments feed for this article
October 21, 2009 at 4:03 am
NuRuDin
Nasehat Hidayat Nur Wahid saat diwawancara :
Apa pesan Anda untuk kaum Muslim, khususnya generasi muda supaya
menampilkan Islam yang **rahmatan lil alamin**?*
Pesan saya adalah Anda tidak perlu merasa bahwa Anda calon tertuduh sebagai teroris. Dan, kemudian Anda takut ke masjid, takut berlaku santun, takut menggunakan simbol-simbol keislaman. Kalau Anda melakukan itu, menanglah teroris. Saya khawatir, bagian dari maksud terorisme adalah keinginan global agar bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang lemah. Ketika kita saling mencurigai, saling menuduh, anak mudanya tidak lagi suka ke masjid, tidak kuat beragama, lebih suka berbuat amoral, atau mengonsumsi narkoba; Indonesia pasti menjadi negara yang lemah. Buktikan keislaman Anda, kesantunan Anda, aktifnya Anda di masjid, di parpol, atau ormas Islam karena berangkat dari ideologi Islam yang benar. Buktikan bahwa Islam dan bangsa Indonesia adalah bangsa yang berkeunggulan. Dan, itu bisa kita lihat gerakan pemuda Islam dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.