Dalam otobiografi yang diterbitkan setiap tahunnya oleh para miliuner/pengusaha/bintang rock/bintang pop/selebriti/olahragawan/negarawan, benang merah ceritanya selalu sama, pahlawan kita dilahirkan dalam kehidupan yang sederhana dan karena kegigihan serta bakatnya, dia kemudian mampu meraih kesuksesan.
Pada saat peresmian patung pahlawan kemerdekaan Amerika, Benjamin Franklin, Robert Winthrop mengatakan kepada khalayak, “Angkat kepalamu, dan lihatlah gambaran orang yang bangkit dari nol, yang kesuksesannya bukan didapatkan dari orang tua atau dukungan orang lain, yang tidak menikmati keuntungan akan pendidikan ratusan kali terbuka bagi kalian, yang banyak melakukan pekerjaan kasar dalam berbagai bisnis yang dijalaninya, tetapi hidup untuk menantang para Raja dan gugur dengan meninggalkan nama yang tidak akan dilupakan dunia.”
Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers (2009) meyakinkan pembacanya bahwa penjelasan tentang kesuksesan seperti ini TIDAK ADA ARTINYA. Orang-orang tidak bangkit dari NOL. Kita berutang sesuatu kepada orang tua dan dukungan kepada orang lain. Orang-orang yang berani menantang para raja mungkin terlihat superior, gagah dan mungkin terlihat melakukan hal itu sendirian. Tetapi sebenarnya mereka tanpa kecuali, adalah penerima berbagai keuntungan yang tersembunyi, kesempatan yang luar biasa, dan warisan kebudayaan yang membuat mereka bisa belajar dan bekerja keras serta menghadapi dunia ini dalam cara yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain.
Tempat dan kapan kita tumbuh besar memiliki pengaruh yang cukup besar. Kebudayaan tempat kita tumbuh besar dan warisan yang diturunkan oleh para pendahulu kita membentuk berbagai pola keberhasilan kita dalam cara yang tidak bisa kita bayangkan. Dengan kata lain tidak cukup untuk menanyakan seperti apa orang sukses itu. Namun dengan menanyakan asal-usul mereka, kita bisa mengungkapkan logika di belakang orang-orang yang meraih kesuksesan dan kegagalan.
“Pohon ek tertinggi di hutan menjadi yang tertinggi bukan karena ia tumbuh dari biji pohon yang paling gigih, ia menjadi pohon tertinggi karena tidak ada pepohonan lain yang menghalangi sinar sang surya, tanah di sekelilingnya dalam dan subur, tidak ada kelinci yang mengunyah kulit kayunya sewaktu masih kecil, dan tidak ada tukang kayu yang menebangnya sebelum ia tumbuh dewasa.”
Tidak Perlu Analisis Statistik Rumit
Ada tabel data menarik yang diungkapkan dalam buku Outliers tersebut, yaitu daftar pemain dari tim Medicine Hat Tigers tahun 2007 (tim Hoki di Canada) dan daftar pemain tim sepakbola yunior nasional Cekoslowakia yang mengikuti turnamen Piala Dunia Yunior. Sepintas kilas, ketika saya amati data itu, tidak ada yang aneh, wajar dan seperti data pemain pada umumnya. Namun, jika lebih jeli lagi, ternyata data itu menggambarkan sebuah arti lain yang ketika dibandingkan dengan data lain, dalam tim potensial manapun ada sebuah korelasi yang bisa diambil.
Adalah psikolog Kanada bernama Roger Barnsley yang pertama kali menemukan fenomena usia relatif dan itupun baru terjadi pada tahun 1980-an. Mayoritas pemain itu lahir pada bulan Januari, Februari dan Maret! Barnsley menemukan bahwa pemain di Liga Hoki Junior Ontario yang dilahirkan di bulan Januari sekitar lima setengah kali lebih banyak dari yang dilahirkan di bulan November. Cerita yang sama. Dia melihat komposisi di National Hockey League (NHL) semakin banyak statistik yang dicarinya, semakin besar keyakinannya bahwa ini bukan kebetulan belaka melainkan hukum alam di hoki Kanada. Hoki ada olahraga terpopuler dan mendarah daging di Kanada, layaknya bulutangkis di Indonesia dahulu ketika masih jaya-jayanya J, maupun sepakbola di Inggris atau Brazil.
Di setiap kelompok pemain hoki elit dimana pun juga – para pemain hoki yang paling hebat- 40% dari pemain yang dilahirkan antara Januari dan Maret, 30% antara April dan Juni, 20% antara Juli dan September, dan 10% antara Oktober dan Desember.
Kesuksesan adalah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai KEUNTUNGAN YANG TERAKUMULASI. Para pemain hoki professional memulainya sedikit lebih baik dibandingkan rekannya. Dan perbedaan kecil itu yang menghasilkan sebuah kesempatan yang membuat perbedaan yang awalnya kecil menjadi semakin besar.—dan seterusnya. Dia hanya memulainya dengan sedikit lebih baik. Implikasi kedua dari contoh tersebut adalah system yang kita buat menentukan siapa yang berhak mendapatkan keuntungan efisien.
Penjelasan untuk hal ini sebenarnya cukup sederhana. Hal ini TIDAK ADA hubungannya dengan astrologi ataupun keajaiban di tiga bulan pertama. Penjelasannya adalah batasan umur penerimaan untuk berbagai kelas usia hoki di Kanada adalah tanggal 1 Januari. Seorang anak laki-laki yang berusia sepuluh tahun pada tanggal 2 Januari bisa bermain dengan bersama-sama seseorang yang baru berumur 10 tahun di akhir tahun itu. – pada usia itu (anak-anak 10 tahun), dalam periode praremaja, jarak dua belas bulan bisa membuat fisik yang sangat besar.
Karena hal ini terjadi di Kanada, negara yang paling gila hoki di seluruh dunia, para pelatih mulai melatih para pemain untuk mewakili tim di saat tandang – tim bintang-bintang – pada usia Sembilan atau sepuluh tahun, dan tentu saja kemungkinan besar mereka akan terihat sebagai pemain lebih berbakat, lebih besar, dan lebih hebat, yang memiliki keuntungan pendewasaan selama beberapa bulan lamanya. Dan apa yang terjadi saat seorang pemain dipilih untuk sebuah tim tandang? Dia akan mendapatkan pelatihan yang lebih baik, dan dia akan bermain lima puluh atau tujuh pulih lima pertandingan dalam satu musim dan bukan hanya dua puluh pertandingan dalam satu musim seperti mereka yang ditinggalkan di laga “kandang”.
Outliers
Stephen Covey pernah mengatakan bahwa faktor eksternal hanya berpengaruh 15% pada kesuksesan seseorang, dan sisanya yang 85% ditentukan oleh reaksi seseorang terhadap faktor eksternal tersebut! Tentu teori Stephen Covey tersebut sangat bertentangan dengan Teori Outliers-nya Malcolm Gladwell. Yang mana yang benar? Tentu saja dua-duanya benar karena dua penulis legendaris tersebut memandang sebab musabab kesuksesan seseorang dari dua perspektif yang berbeda. Stephen Covey menekankan pada kerja keras dan pentingnya sikap proaktif. Sedangkan Malcolm Gladwell memandang pentingnya faktor lingkungan dalam kisah orang-orang sukses yang ditelitinya.
Sebelum Outliers, Gladwell memukau pembaca melalui The Tipping Point (2002). Ia menulis betapa sesungguhnya ”hal-hal kecil dapat membuat perbedaan besar”. Caranya, dengan metode ”ketok tular” yang telah teruji dalam sejarah. Selanjutnya, dalam Blink (2005) ia memaparkan kemampuan ”membuat keputusan jitu dalam sekejap” lewat teori cuplikan tipis, yaitu ”dengan mengetahui sedikit, sudah mengetahui banyak”. Gladwell sendiri adalah staf penulis di New Yorker. Sebelumnya, ia wartawan iptek di Washington Post. Ia jurnalis yang rajin melakukan investigasi dan kesimpulan pandangannya banyak didasarkan pada riset para ahli. Tidak heran, setiap bukunya kaya dengan kutipan referensi.
Dalam bukunya The Outliers, Malcolm Gladwell memaparkan bahwa tahun kelahiran seorang Bill Gates dan Steve Jobs pada tahun 1955 (2 tahun sebelum Altair 880 diluncurkan ke pasar) bisa memberikan andil yang sangat besar dalam kisah kesuksesan mereka. Namun perlu diingat pula bahwa di saat yang bersamaan ada jutaan geek di seluruh dunia yang juga lahir pada tahun 1955 tetapi tetap tidak bisa sesukses Bill Gates dan Steve Jobs.
Dilahirkan sebagai Outliers
Tentu dengan demikian Teori Outliers ini memang hanya berlaku untuk 1-2 orang saja dari jutaan sample yang diambil. Oleh karena itu menjadi sangat amat sulit untuk mengalahkan The Outliers apabila Anda memang tidak dilahirkan sebagai Outliers!
Outliers sendiri artinya observasi yang “hasilnya” menyimpang jauh dari data yang lain. Orang-orang Outliers seperti Bill Gates ini bisa begitu jauh meninggalkan orang-orang kebanyakan karena memang bahkan sebelum Bill Gates lahir pun, dia sudah “dimodali” faktor-faktor eksternal yang sangat luar biasa! Tidak banyak yang tahu bahwa kakek buyut Bill Gates, J.W. Maxwell, adalah pendiri Seattle National City Bank, yang akan menjadi cikal bakal permodalan untuk kesuksesan William (Bill) Henry Gates III!
Orangtua Bill Gates juga bukan orang sembarangan, mereka berdua adalah elit finansial terpandang di kota Seattle, kota kelahiran Bill Gates. Ayah Bill Gates, William Henry Gates Jr. adalah seorang pengacara terkemuka sementara ibunya, Mary Maxwell, adalah Komisaris di First Interstate Bank dan Pacific Northwest Bell. Mary Maxwell bersama John Opel (CEO IBM pada saat itu) juga adalah anggota National Board di United Way. John Opel inilah yang akhirnya menyetujui proyek MS-DOS Bill Gates dengan IBM PC.
Sebagai seorang Outliers, Bill Gates tidak boleh membiarkan setiap detik masa kecilnya terbuang dengan percuma. Oleh karena itu, orangtuanya mengirimkan Bill Gates kecil ke Lakeside School, seolah elit yang uang sekolahnya pada tahun 1967 sudah mencapai $5000 (bandingkan dengan uang kuliah di Harvard saat itu yang masih $ 1760!). Tak heran teman-teman sekelas Bill Gates, salah satunya kakak beradik McCaw Brothers bisa menjual lisensi telepon selular (yang mereka dapatkan dari pemerintahan USA) ke AT&T senilai $11.5 biliion pada tahun 1994. Pada saat anak-anak kecil seusianya merengek untuk dibelikan computer pada saai itu, Bill Gates dengan mudahnya sudah bisa bermain-main dengan DEC PDP-10 seharga $3000, mesin yang sama yang digunakan oleh para peneliti di Stanford dan MIT pada waktu itu!
Misteri orang-orang sukses itu dengan berbagai kemampuan, menurut Gladwell, juga bisa dilhat dari tahun ataupun bulan kelahirannya. Seseorang yang lahir di Bulan Januari akan berbeda kemampuannya dengan kelahiran di luar Bulan Januari (contoh kasus di tim hoki Kanada). Bagaimana seorang jenius di bidang revolusi komputer semacam, Bill Gates, Paul Allen, Steve Jobs, Bill Joy (yang bisa membuat kita bisa mengakses internet), mereka terlahir antara tahun 1953 dan 1956.
Bill Gates, mendapatkan akses komputer sejak dini. Menghabiskan banyak waktu menulis program lewat berbagai macam cara dan runtutan kesempatan yang dipastikan membuatnya punya lebih dari sekedar 10000 jam latihan selama 7 tahun.
Steve Jobs, tidak berasal dari keluarga kaya namun dia tumbuh besar di Mountain View, California. Lingkungannya dipenuhi dengan insiyur-insinyur dari HP (Hewlett Packard). Jobs menghirup udara bisnis, dan punya kesempatan langsung berinteraksi dengan ilmuwan pencipta komputer bersama insinyur-insinyur HP.
Tahun 1975, Gates dan Jobs mempunyai usia ideal. Jika mereka lahir beberapa tahun lebih cepat, tentunya mereka sudah punya pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar semacam IBM. Jika mereka lahir lebih lambat, mereka akan jadi terlalu muda untuk memanfaatkan momentum komputer mini.
Dua orang ini adalah contoh outliers. Fenomena yang menyangkal pendapat umum bahwa kesuksesan hanya muncul karena kerja keras, dan bahwa lingkungan dan tempat tinggal kita tak punya pengaruh apa-apa.
Kaidah 10.000 jam
Gladwell, sbagai perintis sebuah genre baru buku-buku yang menguak pola rahasia di balik fenomena dalam kehidupan sehari-hari, sekali lagi menghadirkan kejutan, salah satunya apa yang dia sebut sebagai kaidah 10.000 jam. Menurut Gladwell, diperlukan latihan 10.000 jam sebelumnya seseorang mencapai kesuksesannya. Dia menguji teori ini dengan dua kisah sukses yang paling terkenal, yaitu kisah The Beatles dan Bill Gates. Tidak hanya itu, Gladwell juga menggali hubungan antara warisan budaya dengan banyak fenomena yang terjadi, misalnya jatuhnya pesawat terbang. Budaya pertanian padi, misalnya, membuat anak-anak asia selalu mencetak nilai lebih tinggi di bidang matematika ketimbang anak-anak Barat yang berlatar belakang budaya pertanian gandum. Status ekonomi orang tua, di mana kita dilahirkan, warisan budaya tempat kita dibesarkan, dan banyak faktor lingkungan lain, turut menentukan kesuksesan kita.
Di dalam buku ini dituturkan sejumlah ”outliers”, yakni orang yang mencapai prestasi besar dengan melakukan hal-hal di luar kebiasaan umum. Ia mengambil The Beatles dan Bill Gates sebagai contoh. Sekalipun mereka bermain di panggung kehidupan berbeda, tetapi ada ”benang merah” persamaannya.
Mereka meniti karier sejak usia muda. Beatles adalah band rock anak sekolah yang kebetulan dikontrak bermain nonstop di kelab malam di Hamburg. Di sana mereka dipaksa bekerja keras, ada kalanya harus bermain selama delapan jam setiap hari dalam seminggu. Dan itu mereka lakukan selama 270 malam dalam kurun waktu 1,5 tahun. Hikmah dari gemblengan superberat itu besar sekali. Sekembalinya ke Liverpool, mereka menjadi orang yang berubah sama sekali. Disiplin, penuh percaya diri, kemampuan mantap, dan kemahiran memainkan banyak sekali lagu menjadi modal besar untuk suksesnya kelak.
Sementara Bill Gates, anak keluarga kaya di Seattle. Sejak kelas tujuh orangtuanya memindahkan dia ke sekolah elite. Di sana ada klub komputer dengan fasilitas terminal bersama. Kegairahan besar untuk bermain-main dengan komputer membuat Gates menghabiskan waktu sampai larut malam, delapan jam sehari. Agaknya ini yang membuat Gates, saat itu siswa kelas 8 (setara SMP kelas II), sudah mampu membuat program komputer sendiri.
Dari dua contoh di atas, Gladwell ingin menyampaikan, semakin dini seseorang digembleng keras di bidang yang paling diminati, maka jika ia berbakat, suatu saat ia akan menunjukkan kelasnya. Gladwell menyebut mengenai ”Kaidah 10.000 Jam”. Maknanya diperlukan tempaan padat selama minimal 10.000 jam dalam jangka pendek sebelum seseorang dapat sukses sebagai profesional bermutu. Ini berlaku untuk penulis novel, pemain catur, pianis konser, pemrogram komputer, atau apa saja. ”Mereka berlatih sangat jauh lebih keras,” tulis Gladwell.
Budaya
Yang paling menarik dari uraian Gladwell adalah mengenai kaitan kerap jatuhnya pesawat terbang dengan budaya kelompok tertentu. Di sini penulis tak langsung mengurai para ”outliers”, melainkan menelisik warisan budaya yang memengaruhi perilaku suatu kelompok. Umumnya orang menganalisis jatuhnya pesawat udara karena faktor cuaca, keahlian pilot, keadaan pesawat, atau landasan kurang sempurna. Tak pernah disinggung faktor ”Power Distance Index” atau ”Indeks Jarak Kekuasaan” di antara mereka yang berada di kokpit (kapten, kopilot, dan juru mesin). Gladwell meminjam pengertian ini dari Hofstede, psikolog Belanda yang melakukan studi perbedaan antarbudaya. Menghadapi risiko dan ketidakpastian, ada budaya yang mendorong warganya berani bicara terus terang walau mungkin menyakitkan. Pada budaya lain, orang lebih sungkan, terutama kalau menghadapi atasan.
Kecelakaan Korean Air, disimpulkannya sebagai adanya Indeks Jarak Kekuasaan yang lebar di antara mereka di kokpit. Rekaman pembicaraan terakhir di ”kotak hitam” menunjukkan, kopilot dan juru mesin sebelumnya agak sungkan terhadap kapten pilot. Setelah situasi benar-benar gawat mereka berani angkat bicara keras, tetapi tentu saja keadaan sudah tidak tertolong!

3 comments
Comments feed for this article
October 26, 2009 at 6:11 am
adhi
selain faktor2 tersebut diatas, kitapun jg punya kewajiban merangkai sendiri setiap langkah kehidupan menuju apa yang kita damba di hari esok nanti….btw, bukunya memang kerennnn………
November 12, 2009 at 10:09 pm
pengamat
Kalau sering jatuhnya pesawat Indonesia karena apa yah?
karena budaya juga?
November 19, 2009 at 10:39 am
hanif
untuk sampai ke sebuah kesimpulan pasti perlu riset lebih lanjut. tapi umumnya di media yang dapat kita jadikan acuan informasi, masih karena penghematan biaya operasional dan umur sudah melebihi batas ambang 18 tahun. Perlu diperbarui.