kenangan terentang bagai lukisan terpanjang, tak pernah bertepi, slalu ada dan menggoda, bagi tergurat, direlung hati, dan takkan kutahan sekarang aku harus pulang…. aku rindu ibu, wibawa ayah dan suasana yang ada, yang pernah singgah (Dik Doan–Pulang–)
Ayo Merantau!
Kalimat itu menjadi sebuah harapan bagi semua orang untuk mengadu nasib. Bahkan menjadi kalimat seruan Baliho di Gunung Kidul, wilayah yang paling kering di DIY. Ajakan itu menjadi sebuah solusi atas masalah di kampung halaman, tapi ternyata disisi lain justru menjadi problema di kota besar, seperti Jakarta. Begitu macetnya Jakarta sehingga banyak waktu terbuang di jalan. Setidaknya 3-4 jam sehari. Dalam survey terakhir yang dilakukan Menko Perekonomian Bidang Transportasi, dari keseluruhan waktu di jalanan, hanya 40 persen waktu digunakan untuk bergerak. Artinya 60 persen waktu dijalan dihabiskan untuk diam sambil mengebulkan asap, membuang-buang bensin, mencemari udara, memekakkan telinga.
Dilematis memang, tapi itulah realitanya. Begitu bersemangatnya orang memperbaiki nasib, namun secara kumulatif karena tidak terfasilitasi dan terencana dengan baik oleh pengampu kebijakan tidak sedikit juga harapan-harapan besar itu justru membuat pening kepala semua orang. Ada seorang teman yang bertekad berdagang menaklukkan Jakarta karena disitulah barometernya, kalau Jakarta saja bisa takluk, daerah lain tentu lebih mudah. Entahlah, bisa jadi benar begitu.
Dahlan Iskan memberi pesan : “Bacalah buku kecil mengenai 10 momentum yang membuat Ir Ciputra sukses besar. Salah satunya adalah apa yang selama ini juga saya yakini: merantau! Tentu tidak semua orang yang merantau otomatis akan sukses. Banyak juga yang di perantauan hanya jadi beban orang lain. Sering juga jadi beban sesama perantau dari satu daerah asal.”
Bahkan agama Islam menganjurkan kita untuk merantau, pergi meninggalkan kampung halaman, berjalan ke negeri lain, menjalin silaturahmi dengan bangsa dan golongan lain, saling bertukar pengetahuan, pemandangan-pemandangan, belajar kebudayaan dan senantiasa berinteraksi. “Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Al- Hajj 46).
Antara Terpaksa dan Pilihan
Tidak semua orang yang merantau karena kemauan. Ada juga yang terpaksa merantau. Entah karena tugas dinas (ini yang biasanya PNS pusat dan karyawan swasta), pekerjaan yang memang ada di suatu tempat tertentu, dan karena alasan melarikan diri. Yang terakhir ini pilihan yang menyedihkan tapi sering terjadi.
Seorang nenek satu kampung yang biasa jual tahu, tempe, sayur dan bumbu-bumbuan dapur beberapa hari ini tutup berjualan. Usut punya usut ternyata rumahnya telah dijual sang anak yang akhirnya “kabur” ke Jakarta. Karena modal dan tempat usaha sekarang tidak ada, apalagi terjerat renternir, ia akhirnya tutup buku, eh gulung tikar alias bangkrut. Ironis! Kita pun kena imbasnya juga, mau beli-beli bumbu jadi susah, hehe… padahal juga jarang masak J.
Kisah lain, ada seorang ibu yang bertekad menjadi TKI ke Hongkong untuk membayar utang yang menumpuk sampai puluhan juta. Training tiga bulan pun dilakoninya. Sebelumnya, karena tuntutan gengsi hidup, ia berani berhutang kesana-kemari untuk membangun rumah yang sebetulnya tidak perlu mewah dan bertingkat. Bahkan sebagai bendahara, uang arisanpun disambernya, sampai-sampai bertemu dengan siapapun di jalan, di pasar dan di rumah, merasa takut dan tidak enak hati karena selalu ada “tagihan berjalan” alias dimana-mana minta dilunasi. Listrik pun akhirnya minta tetangga karena diputus oleh PLN. Suami pun sudah berusaha tapi tetap saja gaji sebagai koki rumah makan tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Karena tuntutan hidup dan himpitan utang, empat orang anak yang masih kecil akhirnya ditinggalkannya. “Aku harus merantau!” begitu tekadnya.
Duh, kalau melihat anaknya yang paling kecil kira-kira usianya 3 tahunan sedang bermain di sekitar rumah, terbersit kasihan. Apalagi sewaktu rebutan mainan, ada anak lain yang bilang, “ini punyaku, minta ibumu sana!”. Maklum, anak-anak polos itu tidak paham. Tidak paham akan masalah keluarga teman mainnya. Apalagi anaknya yang lebih besar (TK), lebih kasihan lagi, sudah tidak lagi mau bermain bersama anak-anak sebaya, tidak PD lagi. Anak-anakpun merasakan imbas tingkah polah orang tuanya. Untunglah akhirnya sang ibu memutuskan pulang setelah berbulan-bulan pergi, karena satu alasan, yaitu anak-anaknya.
Lebih Baik disini, di Kampung Sendiri
Banyak contoh orang yang kembali ke kampung halaman untuk membangun daerahnya. Ada mantan menteri, anggota DPR dan perantauan yang pulang menjadi pimpinan kepala daerahnya. Seakan apa yang diperbuatnya di level nasional masih kurang, sehingga perjuangan pun ingin diteruskan lewat daerah asalnya, di kampung kelahirannya.
Tapi memang tidak semua harus merantau. Harus ada yang tetap di daerahnya. Ibaratnya ada yang pergi berperang, harus ada pula yang belajar. Kalau ini dibalik, kita yang diperantauan sedang belajar, dan yang tetap tinggal sedang “beperang” dengan keterbatasan dan tantangan yang ada. J hehe.
Sukses tidaknya seseorang bukan karena merantau atau tidaknya. Masing-masing dari kita berusaha menjemput impian. Ada memang yang harus loncat kesana kemari dan nantinya bertekad kembali, namun ada juga yang harus ditekuni sejak dini di kampung sendiri. Kalau bisa memilih, kuingin berkiprah di kampung halaman. [zh10]
♥♥♥
Selamat tinggal sahabatku, ku kan pergi berjuang. Menegakkan cahaya Islam, jauh di negeri seberang. Selamat tinggal sahabatku, ikhlaskanlah diriku. Iringkanlah doa restumu. Allah bersama selalu. Kalau tak lagi jumpa usahlah kau berduka. Semoga tunai cita-cita, raih gelar syuhada. Ku kan berjanji dalam hati untuk segera kembali. Menjayakan negeri ini, dengan ridho ilahi. Selamat tinggal sahabatku. (Izzatul Islam)
buat Sunu, Tyas, Shofwan, dll.. semoga jejakmu banyak menginspirasi!
nais nasehat Nif