<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>zainuri hanif</title>
	<atom:link href="http://futuh.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://futuh.wordpress.com</link>
	<description>"Komitmen membutuhkan pembuktian, dan amal adalah bukti konkret sebuah komitmen"</description>
	<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 07:59:49 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>id</language>
			<item>
		<title>Memperluas Pagar Zona Nyaman</title>
		<link>http://futuh.wordpress.com/2008/07/20/memperluas-pagar-zona-nyaman/</link>
		<comments>http://futuh.wordpress.com/2008/07/20/memperluas-pagar-zona-nyaman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 07:38:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[opini]]></category>

		<category><![CDATA[resiko]]></category>

		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<category><![CDATA[zona aman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://futuh.wordpress.com/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[Sering orang mencoba menjalani hidup secara terbalik; mereka mencoba memiliki lebih banyak barang, lebih banyak uang, agar dapat mengerjakan hal yang mereka inginkan lebih banyak, agar mereka lebih bahagia. Sebenarnya, jalan yang benar adalah kebalikannya. Engkau pertama-tama harus MENJADI DIRIMU yang sesungguhnya, lalu melakukan apa yang perlu kaulakukan, agar dapat lebih banyak memiliki hal-hal yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;"><a href="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/memperluas-pagar-zona-nyaman.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-280" src="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/memperluas-pagar-zona-nyaman.jpg?w=300&h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><span lang="EN-US">Sering orang mencoba menjalani hidup secara terbalik; mereka mencoba memiliki lebih banyak barang, lebih banyak uang, agar dapat mengerjakan hal yang mereka inginkan lebih banyak, agar mereka lebih bahagia. Sebenarnya, jalan yang benar adalah kebalikannya. Engkau pertama-tama harus MENJADI DIRIMU yang sesungguhnya, lalu melakukan apa yang perlu kaulakukan, agar dapat lebih banyak memiliki hal-hal yang kauinginkan. (Margaret Young).</span></p>
<p style="text-align:left;"><span id="more-279"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><strong><span lang="EN-US">Mengambil Resiko</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"><span> </span>Setiap orang mendambakan hidup yang tentram, sejahtera. Begitu pula dalam memilih pekerjaan. Kebanyakan orang tua yang sudah merasakan kenyamanan hidup, cenderung mengarahkan anaknya mengikuti profesinya. Ayah / Ibu yang menjadi PNS, ingin anaknya menjadi PNS pula. Orang tua yang menjadi tentara atau polisi, menginginkan anaknya menjadi tentara atau polisi juga. Yang menjadi dosen, menginginkan anaknya menjadi dosen juga, yang menjadi dokter, ingin juga anaknya sukses menjadi dokter, dst. Memang ada kebaikan yang diperoleh, malah banyak mungkin. Namun, bisa jadi hal itu justru membatasi potensi yang seharusnya bisa lebih melejit lagi. Sang anak seharusnya bisa jadi orang yang lebih hebat dari orang tuanya, lebih produktif, lebih pintar (cerdik cendekia), menjadi lebih dikenal masyarakat karena menjadi pemimpin rakyat (bupati, gubernur, menteri, bahkan presiden), menjadi lebih kreatif dan inovatif karena konseptor kebijakan yang handal, menjadi pengusaha sukses yang memimpin sekian puluh ribu karyawan, dll yang tidak hanya sisi duniawi saja tentunya. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"><span> </span></span><span lang="EN-US">Persoalannya adalah, bisakah seseorang mengambil tantangan dengan menempuh jalan yang berliku untuk meraih sebuah kesuksesan. Memilih jalan lain yang berbeda dari sebelumnya dan merintis jalan barunya. Keluar dari zona nyaman adalah hal yang selalu dilakukan orang yang sukses dengan ide dan gagasannya yang berujung pada hal baru yang tentu lebih menantang dan beresiko. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"><span> </span>Aburizal Bakrie yang oleh majalah Forbes Asia 2007 dinobatkan sebagai orang terkaya no.1 di </span><span lang="EN-US">Indonesia</span><span lang="EN-US"> adalah sosok pengusaha yang mau mengambil resiko untuk meraih kesuksesan (majalah tempo edisi khusus reformasi).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="EN-US">Tahun 1998 di ruang Hotel Crowne, Jakarta Selatan, dihadapan 150 pemberi utang, Aburizal Bakrie mengibarkan bendera putih. Ia memproklamirkan ketidakberdayaannya, “Kami tak kuat lagi membayar utang,” katanya mewakili perusahaan keluarga besarnya yang mempunyai tumpukan utang US$ 1,08 miliar. Bakrie menyerah, namun ia berjanji tidak akan lari, ia hanya meminta penundaan cicilan dan pengaturan kembali pembayaran utang. Perwakilan kreditor dari berbagai negara itu mengangguk setuju. Dua tahun negoisasi akhirnya utang dialihkan menjadi kepemilikan saham untuk pemberi utang. Saham Bakrie &amp; Brothers yang semula sekitar 80 persen hanya tinggal 2,5 persen yang dimiliki. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="EN-US">Karena sikap ksatria inilah, Aburizal yang mewarisi keterpurukan perusahaan keluarga mendapatkan kepercayaan dari pemberi utang untuk mencairkan pinjaman baru. Dari sinilah Aburizal mulai berupaya merebut kembali aset-asetnya. Ia mengambil resiko dengan membajak dan menempatkan para profesional di sejumlah posisi penting. Di antaranya Nalinkant A. Rathod (akuntan dari </span><span lang="EN-US">India</span><span lang="EN-US">), Andrew C. Beckham (konsultan asal Inggris) dan Ari S. Hudaya, profesional pertambangan lulusan ITB). Segera, Bakrie mulai bergerilya. Bakrie dengan anak perusahaan Bumi Resourches membuat kejutan dengan mengakuisisi PT Arutmin </span><span lang="EN-US">Indonesia</span><span lang="EN-US">, perusahaan tambang batu bara milik BHP Billiton </span><span lang="EN-US">Australia</span><span lang="EN-US">. Banyak orang terperangah dengan transaksi US$ 180 juta itu. Apalagi dana pembelian itu dari utang dalam negeri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="EN-US">Pada tahun 2003, lagi-lagi Bumi Resourches (BR) bikin geger dengan merebut saham Kaltim Prima Coal (KCP) perusahaan milik Rio Tinto dan BP Plc. Setelah akusisi Aritmin dan KCP, kinerja BR semakin melesat. Harga saham yang semula seharga Rp 35 pada Juli 2003 terus naik menjadi kisaran Rp 6800 pada saat ini. Kenaikan saham sampai 16.000 persen. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="EN-US">Kesuksesan Bakrie tidak lepas dari keranian mengambil resiko dan sikap tanggung jawab. Bagaimana sikap Bakrie terhadap lumpur Lapindo? Anindya Bakrie (putra Aburizal) menjawab, “Mirip 1999, kami tidak lari dari tanggung jawab.” Semoga persoalan itu segera selesai, dan pihak-pihak yag dirugikan mendapatkan haknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-US">Keluar dari Zona Nyaman untuk Menang</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"><span> </span></span><span lang="EN-US">Ada</span><span lang="EN-US"> pilihan berat, ketika memilih tetap di zona nyaman dengan keadaan yang begitu-itu saja atau keluar dari zona tersebut untuk memperluas pagar zona nyaman yang telah kita punyai. Sedikit orang yang memilih yang kedua. Namun, yang sedikit itu bisa mengakibatkan tragedi kemanusiaan yang luar biasa jika ia mempunyai semua potensi yang diperlukan untuk berkuasa, sebagaimana Hitler dengan NAZI-nya. Sekutu harus mengorbankan ratusan ribu tentaranya untuk mengalahkannya. <span style="color:black;">Invasi Normandia</span><span style="color:black;">, yang nama kodenya adalah <span>Operasi Overlord</span>, adalah sebuah operasi pendaratan yang dilakukan oleh pasukan <a title="Sekutu Perang Dunia II" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sekutu_Perang_Dunia_II"><span style="text-decoration:none;color:black;">Sekutu</span></a> saat <a title="Perang Dunia II" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_II"><span style="text-decoration:none;color:black;">Perang Dunia II</span></a> pada tanggal <a title="6 Juni" href="http://id.wikipedia.org/wiki/6_Juni"><span style="text-decoration:none;color:black;">6 Juni</span></a> <a title="1944" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1944"><span style="text-decoration:none;color:black;">1944</span></a>. Hingga kini Invasi Normandia merupakan <a title="Invasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Invasi"><span style="text-decoration:none;color:black;">invasi</span></a> laut terbesar dalam sejarah, dengan hampir tiga juta <a title="Tentara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tentara"><span style="text-decoration:none;color:black;">tentara</span></a> menyeberangi <a title="Selat Inggris" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Selat_Inggris"><span style="text-decoration:none;color:black;">Selat Inggris</span></a> dari <a title="Inggris" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Inggris"><span style="text-decoration:none;color:black;">Inggris</span></a> ke <a title="Perancis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perancis"><span style="text-decoration:none;color:black;">Perancis</span></a> yang diduduki oleh tentara <a title="Nazi Jerman" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nazi_Jerman"><span style="text-decoration:none;color:black;">Nazi Jerman</span></a>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"><span> </span>Pasukan penerjun Divisi 101 diterjunkan ke belakang garis musuh menjadi pembuka jalan dikuasainya </span><span lang="EN-US">Normandy</span><span lang="EN-US">. Resiko pasukan yang ditujukan untuk memutus pasokan logistik dan senjata ini adalah terkepung dan terbantai sebagaimana yang terjadi pada 8 ribu dari 12 ribu pasukan Inggris saat operasi market Garden. Namun, itulah perang, semua beresiko. Jika ingin menang, harus keluar dari zona nyaman dan merebut wilayah musuh untuk dijadikan zona nyaman kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-US">Zona Nyaman itu adalah Pekerjaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"><span> </span>Pekerjaan apa yang menjadi dambaan di negeri ini? Ternyata masih PNS. Terbukti pendaftaran PNS Depkeu kemarin yang membludak. Namun, jelas kuota PNS yang sedikit itu tidak sebanding dengan banyaknya orang yang mendaftar. Layaknya UMPTN/SPMB, kursi yang sedikit itu harus diperebutkan. Lantas harus kemana yang lainnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"><span> </span>Masih banyak lapangan kerja yang lain. Walaupun tentunya bagi kalangan tertentu, yang putri (akhwat) tidak semua bisa dimasuki. Kebanyakan lapangan kerja yang ada memang lebih cocok bagi pria. Misalnya pertambangan, perkebunan, dan industri manufaktur lainnya. Inilah mengapa masih terjadi banyaknya lulusan yang masih menganggur karena terlalu memilih-milih pekerjaan (termasuk saya tentunya ^_^ ). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"><span> </span>Senior saya pernah menasehati, bahwa salah satu hikmah menikah adalah memperlancar rezeki memang logis. Ketika sudah menikah, membuat suami (khususnya) tidak akan gengsi lagi untuk kerja. Ia tidak akan memilih-milih lagi pekerjaan ini, itu, dll. Asal halal, akan dia lakukan. Dari kesungguhan (jiddiyah) dan rasa tanggung jawab itulah, Allah pasti akan membukakan rezekinya yang lain. Insya Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"><span> </span>Pekerjaan yang kita pilih adalah karir masa depan kita. Tentu jika ingin ke depannya hidup dengan nyaman, harus bersusah payah terlebih dahulu. Jika dari sekarang ingin nyaman dengan status pekerjaan tertentu, tentunya perlu diperhitungkan bahwa keberlangsungan kenyamanan itu jangka pendek atau panjang. Sering-sering berkonsultasi dengan berbagai pihak. Jangan sampai kenyamanan yang kita rengkuh ternyata stagnan. Beberapa teman saya sudah keluar dari pekerjaannya (di manufaktur terkemuka di </span><span lang="EN-US">Indonesia</span><span lang="EN-US">) karena tidak nyaman. Ia merasa tidak mempunyai waktu pribadi. Kerja jam 08.00 pagi, pulang terkadang jam 20.00, 22.00 behkan pernah jam 02.00 pagi. Kenyamanan bagi dia adalah bisa punya waktu bersosialisasi, waktu istirahat cukup dan waktu ibadah (mengaji) yang banyak. Gaji tentunya menjadi pertimbangan, tapi bagi teman saya tadi, gaji yang tinggi tidak membuat ia bahagia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="EN-US">Berani mengambil resiko dan mengambil peluang yang ada merupakan pilihan yang baik selagi kita masih muda. Semoga saya, anda dan semua mampu melakukan itu dan berkontribusi maksimal bagi keluarga, lingkungan, bangsa dan negara ini. <strong>[] zh</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/futuh.wordpress.com/279/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/futuh.wordpress.com/279/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/futuh.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/futuh.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/futuh.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/futuh.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/futuh.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/futuh.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/futuh.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/futuh.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/futuh.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/futuh.wordpress.com/279/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=futuh.wordpress.com&blog=1371030&post=279&subd=futuh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://futuh.wordpress.com/2008/07/20/memperluas-pagar-zona-nyaman/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/zanif-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hanif</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/memperluas-pagar-zona-nyaman.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now</title>
		<link>http://futuh.wordpress.com/2008/07/20/sepuluh-tip-sukses-right-here-right-now/</link>
		<comments>http://futuh.wordpress.com/2008/07/20/sepuluh-tip-sukses-right-here-right-now/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 07:34:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[tip &amp; trik]]></category>

		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<category><![CDATA[tip sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://futuh.wordpress.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Sepuluh tahun yang lalu, kalau saya ditanya apakah tip sukses saya, mungkin saya tidak bisa menjawab. Sekarang, sukses bagi saya bukanlah ketika buku saya menjadi best-seller atau ketika menerima pujian untuk artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal terkemuka di Inggris Raya. Sukses bukan pula ketika saya dan suami berhasil juga membeli rumah di San Francisco [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/05ga.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-277" src="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/05ga.jpg?w=128&h=96" alt="" width="128" height="96" /></a><span lang="EN-US">Sepuluh tahun yang lalu, kalau saya ditanya apakah tip sukses saya, mungkin saya tidak bisa menjawab. Sekarang, sukses bagi saya bukanlah ketika buku saya menjadi best-seller atau ketika menerima pujian untuk artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal terkemuka di Inggris Raya. Sukses bukan pula ketika saya dan suami berhasil juga membeli rumah di San Francisco Bay Area dengan keringat sendiri setelah hampir sepuluh tahun merantau di Negeri Paman Sam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Sukses bagi saya adalah mindset. Sukses adalah saya; saya adalah sukses. Sukses bukan tujuan, bukan pula perjalanan. Success is about being dan becoming. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span><span id="more-276"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Berani dan overconfident kedengarannya? Mungkin, yang jelas ribuan bahkan jutaan manusia &#8220;sukses&#8221; di dunia alias manusia bermental juara mempunyai mindset seperti ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Apakah Anda perlu menjadi juara tenis tingkat Wimbledon atau juara golf profesional di </span><span lang="EN-US">PGA</span><span lang="EN-US"> </span><span lang="EN-US">Pebble</span><span lang="EN-US"> </span><span lang="EN-US">Beach</span><span lang="EN-US"> untuk disebut &#8220;sukses&#8221;? Apakah Anda perlu mengendarai Corvette dan Lexus SUV hybrid? Jelas tidak. Seorang bermental juara alias bermindset &#8220;orang sukses&#8221; bisa jadi hanyalah seorang salesman saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Ambillah contoh Bill Porter, seorang salesman door-to-door dari </span><span lang="EN-US">Portland</span><span lang="EN-US">, </span><span lang="EN-US">Oregon</span><span lang="EN-US"> yang terlahir dengan cerebral palsy. Ia berjalan kaki setidaknya 10 mil perhari selama 40 tahun dengan tertatih-tatih setiap hari tanpa mengeluh. Hebatnya, karena tubuhnya bagian kiri tidak bekerja sebagaimana orang normal, ia sebenarnya sangat sulit untuk berjalan tegak dan berbicara dengan jelas. (Baca </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">www.billporter.com, filem Door to Door dan buku berjudul Ten Things I Learned from Bill Porter oleh Shelly Brady.) Dengan penghasilan pas-pasan dari seorang salesman rumah ke rumah, jelas di mata orang awam ia tidaklah termasuk kategori &#8220;sukses secara finansial.&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Namun, bagi saya, Bill Porter adalah salah satu orang paling sukses di dunia yang amat sangat saya kagumi. Salah satu cita-cita saya adalah bertemu muka dengan beliau suatu hari. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:red;">Nah, lantas apa resep 10 tip sukses concoction ala Jennie? </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-US">Satu, bersyukurlah atas hari ini.</span></strong><span lang="EN-US"> &#8220;Just to be alive is a grand thing,&#8221; kata Agatha Christie, salah satu novelis detektif terkemuka. Jauhkanlah perasaan depresi dan sedih tanpa juntrungan. Jalani setiap hari dengan hati penuh syukur. Ingatlah akan Bill Porter. Kalau dia bisa jadi seorang salesman berhasil, apapun yang Anda inginkan sebenarnya pasti bisa tercapai. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-US">Dua, belajarlah seakan-akan Anda akan hidup selamanya, hiduplah seakan-akan Anda akan mati besok.</span></strong><span lang="EN-US"> Mohandas Gandhi pernah berkata demikian, &#8220;Live as if you were to die tomorrow, learn as if you were to live forever.&#8221; Belajar terus, upgrade diri terus dengan berbagai cara baik yang memerlukan effort maupun effortlessly. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-US">Tiga, setiap ketrampilan pasti ada penggunanya</span></strong><span lang="EN-US">. Ini saya dapat dari salah satu sahabat saya seorang wanita blonda dari </span><span lang="EN-US">San Diego</span><span lang="EN-US">. Sahabat saya </span><span lang="EN-US">Crystal</span><span lang="EN-US"> ini pernah membesarkah hati saya, &#8220;There are all kinds of writers, there are all kinds of readers.&#8221; Ketika saya down karena merasa incompetent bertarung dengan penulis-penulis lokal di sini, </span><span lang="EN-US">Crystal</span><span lang="EN-US"> mengingatkan bahwa setiap jenis penulis pasti ada pembacanya (niche). Find your niche, so you find your place in </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">the world. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-US">Empat, bukalah jalan sendiri, orisinil.</span></strong><span lang="EN-US"> Ralph Waldo Emerson once said, &#8220;Do not go where the path may lead, go instead where there is no path and leave a trail.&#8221; Jangan latah mengikuti orang lain, dengar kata hati dan ikutilah jalan yang belum kelihatan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-US">Lima, belajar mencintai apa yang Anda punyai,</span></strong><span lang="EN-US"> bukan berangan-angan akan apa yang Anda tidak miliki. Use whatever you have at hand, impian hanya akan menjadi nyata kalau Anda menggunakan instrumen yang kasat mata saat ini juga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-US">Enam, lihat apa yang kelihatan dan lihat apa yang belum kelihatan.</span></strong><span lang="EN-US"> Gunakan visi dan misi untuk mengenal apa yang Anda tuju. Seringkali, apa yang belum kelihatan adalah blue print untuk sukses Anda. Begitu kelihatan, ia akan menjadi semacam de ja vu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-US">Tujuh, telan kepahitan hidup dan bersiap-siaplah dalam menyongsong hari baru.</span></strong><span lang="EN-US"> Setiap hari adalah hari baru. Bangunlah tiap pagi dengan hati yang curious akan apa yang akan Anda alami hari itu. Be excited, be courageous to start the day. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-US">Delapan, semakin banyak Anda memberi, semakin banyak Anda akan menerima.</span></strong><span lang="EN-US"> <strong><span style="color:red;">The more you give, the more you get in return.</span></strong> Dalam marketing, ini mungkin disebut sebagai taktik public relations atau publicity. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, ini juga berlaku tanpa diselipi dengan iming-iming tertentu. Saya sendiri sudah membuktikannya. <span style="color:red;">Semakin banyak kita memberi (dalam arti luas, tidak terbatas uang dan materi), semakin besar penghargaan dan berkat yang </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:red;">kita terima. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-US">Sembilan, jadilah mentor diri sendiri.</span></strong><span lang="EN-US"> What would Oprah do? Itu yang saya pakai sebagai ukuran. Saya tidak memilih Nabi atau pembesar negara, namun seorang wanita berkulit berwarna yang telah membalikkan nasibnya sendiri menjadi salah satu orang berpengaruh di dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-US"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-US">Sepuluh, saya eksis dengan maupun tanpa tubuh saya.</span></strong><span lang="EN-US"> Setidak-tidaknya sekali sehari, saya mengingatkan diri sendiri bahwa hidup ini bukanlah untuk selamanya. Maka berbuatlah terbaik pada saat ini juga. Jangan tunggu-tunggu lagi. &#8220;Just do it,&#8221; kata Cher di Farewell Concertnya beberapa tahun yang lampau. I do my best every chance I have. Berbuatlah terbaik di setiap kesempatan, karena itu mungkin </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">yang terakhir. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Ingatlah sukses bukanlah tujuan, bukan pula perjalanan. Sukses adalah mindset. Bukan hanya cogito er go sum (saya berpikir maka saya ada), namun sum ego prosperitas (sukses adalah saya). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<h6><em><span lang="EN-US">Sumber: Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now by Jennie S. Bev. Jennie S. Bev is a prolific author and co-author of 17 books and over 850 articles published in the United States, Canada, UK, France, Germany, Singapore and Indonesia. She is based in scenic </span></em><em><span lang="EN-US">Northern California</span></em><em><span lang="EN-US"> where she resides with her husband. Milis job-ugm.</span></em></h6>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/futuh.wordpress.com/276/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/futuh.wordpress.com/276/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/futuh.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/futuh.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/futuh.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/futuh.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/futuh.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/futuh.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/futuh.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/futuh.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/futuh.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/futuh.wordpress.com/276/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=futuh.wordpress.com&blog=1371030&post=276&subd=futuh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://futuh.wordpress.com/2008/07/20/sepuluh-tip-sukses-right-here-right-now/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/zanif-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hanif</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/05ga.jpg?w=128" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Permintaan si-Kecil</title>
		<link>http://futuh.wordpress.com/2008/07/13/permintaan-si-kecil/</link>
		<comments>http://futuh.wordpress.com/2008/07/13/permintaan-si-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 13:16:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<category><![CDATA[TPA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://futuh.wordpress.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini aku semakin menyadari, sekitar rumah begitu riuh oleh adik-adik kecil tetangga yang bermain layang-layang dan berbagai dolanannya (delikan, jek-jekan, balapan pit, nekeran, dll). Jumlah mereka cukup banyak, hanya sekitaran tetangga saja total ada lebih dari 15-an anak, belum yang agak jauh tapi masih satu RW (melingkupi 2 RT), jumlah mereka bisa mencapai 50 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/nutrisi-bayi.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-246" src="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/nutrisi-bayi.jpg?w=114&h=96" alt="" width="114" height="96" /></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Akhir-akhir ini aku semakin menyadari, sekitar rumah begitu riuh oleh adik-adik kecil tetangga yang bermain layang-layang dan berbagai dolanannya (delikan, jek-jekan, balapan pit, nekeran, dll). Jumlah mereka cukup banyak, hanya sekitaran tetangga saja total ada lebih dari 15-an anak, belum yang agak jauh tapi masih satu RW (melingkupi 2 RT), jumlah mereka bisa mencapai 50 orang. Rata-rata berumur 2-7 tahun. Tentu yang masih kecil bermain bersama ibunya. Tidak adanya kawasan publik yang bisa menjadi tempat bermain anak-anak menjadikan mereka bermain dari gang ke gang. Balap sepeda meliuk-liuk di gang yang tak lebih dari 1 meter, bahkan kadang cuma melewati gang 0,6 meter sudah biasa dan lihai. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span id="more-245"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> Ketika sedang di depan rumah, Asnan seorang anak berumur 3 tahun yang kesana-kemari berlari berusaha menerbangkan layangannya, berhenti di depanku. “Mas-mas, kapan TPA lagi?” Spontan kujawab, “Lha kan Asnan nggak pernah berangkat?” Asnan pun segera menimpali, “Lha di masjid TPAnya nggak ada kok mas?” Deg… Duh bener juga T_T. Cerdas juga nih anak… ^_^<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sudah beberapa tahun ini TPA hanya ada pas Ramadhan saja. Habis itu macet. Padahal kita bisa baca Qur’an juga gara-gara TPA. TPA paling meriah ya sewaktu aku kecil. Pengelolaannya profesional, sampai ada seragam, acara wisuda dan piknik ke Bonbin Gembiraloka bareng-bareng naik andong. Seru sekali TPA waktu itu. Orang tua mendukung penuh 100% agar anaknya ke Masjid. Ketika suatu saat aku mbolos TPA gara-gara nonton kampanye parpol (tahun 1992-an) di pingir jalan depan rumah, pernah dicubit sama bapak, sakit sekali, nggak boleh mbolos! Sekarang dukungan orang tua memang harus lebih ditingkatkan lagi karena selama ini kendalanya memang di situ. Orang tua memberi les yang lain, tapi tidak untuk les ngaji/belajar baca Qur’an.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Semoga ke depan permintaan si-kecil ini bisa kita wujudkan… Insya Allah ya dik…. </span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Webdings;"><span>4</span></span></strong><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> zh</span></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/futuh.wordpress.com/245/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/futuh.wordpress.com/245/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/futuh.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/futuh.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/futuh.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/futuh.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/futuh.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/futuh.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/futuh.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/futuh.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/futuh.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/futuh.wordpress.com/245/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=futuh.wordpress.com&blog=1371030&post=245&subd=futuh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://futuh.wordpress.com/2008/07/13/permintaan-si-kecil/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/zanif-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hanif</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/nutrisi-bayi.jpg?w=114" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kenangan di SMP 5 Jogja: Ternyata Masih Ingat…</title>
		<link>http://futuh.wordpress.com/2008/07/12/kenangan-di-smp-5-jogja-ternyata-masih-ingat%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://futuh.wordpress.com/2008/07/12/kenangan-di-smp-5-jogja-ternyata-masih-ingat%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 13:16:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<category><![CDATA[smp 5 jogja]]></category>

		<category><![CDATA[wisuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://futuh.wordpress.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[Ahad, 29 Juni 2008 yang lalu, diadakan wisuda purna siswa SMP 5 Yogyakarta. Kebetulan, aku berangkat bersama Ibu mengantikan bapak yang tidak bisa ikut untuk wisuda adikku. Biasanya kalo ada acara buat kami di sekolah, selalu Bapak dan Ibu yang berangkat. Sudah 8 tahun aku tidak main ke SMP 5 Jogja. Ternyata bangunan dan suasananya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><a href="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/dsc09648.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-249" src="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/dsc09648.jpg?w=500&h=375" alt="" width="500" height="375" /></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ahad, 29 Juni 2008 yang lalu, diadakan wisuda purna siswa SMP 5 Yogyakarta. Kebetulan, aku berangkat bersama Ibu mengantikan bapak yang tidak bisa ikut untuk wisuda adikku. Biasanya kalo ada acara buat kami di sekolah, selalu Bapak dan Ibu yang berangkat. Sudah 8 tahun aku tidak main ke SMP 5 Jogja. Ternyata bangunan dan suasananya tidak jauh berubah. Yang membedakan masjid (dulu musholla) yang sudah tidak di selatan kamar mandi dan ruang IT di sebelah timur perpus. Masjidnya sekarang lebih bagus, ada di lantai 2 sebelah barat perpus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span id="more-248"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Berbeda dengan wisuda yang diselenggarakan SMA/Sarjana pada umumnya, wisuda SMP ini tidak ada fotografer khusus. Sehingga mengakibatkan banyak tukang foto dadakan selama acara wisuda (termasuk aku tentunya </span><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span><span style="font-family:Arial;">^_^</span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> ). Rata-rata orang tua, bapak/ibu berjalan-jalan untuk mendokumentasikan acara putra/i kesayangannya. Terutama saat sang anak disalami di panggung oleh wali kelas masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Nah, dalam acara ini sempat berbincang sebentar dengan beberapa guru yang pernah mengajar dulu. Ternyata mereka masih ingat. Ada yang ingat nama, tapi lebih banyak yang ingat wajah saja. Bu Evi, guru Geografi menjadi guru yang paling akrab karena beliaulah wali kelas kita dulu di kelas E. Kelas yang kompak dan menjadi jawara LIGA PAWITIKRA, hehehe narsis (jadi ingat watu bantai kelas IIA sampai 18-1 </span><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span><span style="font-family:Arial;">^_^</span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> ). Nggak enak juga ketika ditanya bu Evi, “Gimana, masih sering ikutan kumpul dengan temen-temen kelas E?”… ^_^. Terakhir katanya kumpul pas nikahnya Ulfah, termasuk bu Evi. Ternyata bu Evi masih mengikuti perkembangan anak didiknya. Ya, gimana lagi, seringnya tahu infonya telat, jadi nggak bisa kumpul. Kadang juga pas nggak bisa juga. Beberapa kali diberitahu temen kelas E sekampus, “Nif, ikut kumpul-kumpul kelas E ndak?” “Kapan?” Tanyaku. Temenku pun menjawab,“Kemarin”. Duh, telatnya…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Alhamdulillah bisa ngobrol juga dengan pak Tri, dulu ngajak MULOK Elektronika yang terkenal dengan decoder dan soldernya, kalo pelajaran kita saat itu disuruh nggambar IC (padahal kebanyakan nggak donk </span><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span><span style="font-family:Arial;">^_^</span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> ). Ada juga pak Edi yang menjadi langganan MC, pak Saridjo yang menjadi pembina organisasi, khususnya OSIS, MPK dan Pramuka, pak Pri yang suka mewajibkan renang, bu Madyaningsih guru bahasa Inggris, pak Mudji guru bahasa Indonesia yang katanya sekarang jadi guru seni rupa, dll. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Main ke SMP 5 banyak mengingatkan kenangan SMP dulu… unik, nyentrik, konyol. Ketika SMP aku jarang banget mau difoto, sehingga dirumah tidak punya kenangan.<span> </span>Ada tower air dekat musholla dulu yang menjadi saksi beberapa anak Rohis Ikhwan SMP 5 Jogja kelas II dan III yang nginep dan ngobrol-ngobrol sambil lihat bintang-bintang di langit sambil cerita-cerita.<span> </span>Biasanya kalo paginya ada Isra Mi’raj Atau Maulud Nabi, malam sebelumnya kita nginep untuk dekor, persiapan kursi, dll. Sekarang masih ada nggak ya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><a href="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-250" src="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/1.jpg?w=500&h=415" alt="" width="500" height="415" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><a href="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/dsc09643.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-251" src="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/dsc09643.jpg?w=500&h=375" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><a href="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/dsc09647.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-252" src="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/dsc09647.jpg?w=500&h=375" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><a href="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/dsc09672.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-253" src="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/dsc09672.jpg?w=500&h=375" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/futuh.wordpress.com/248/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/futuh.wordpress.com/248/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/futuh.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/futuh.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/futuh.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/futuh.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/futuh.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/futuh.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/futuh.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/futuh.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/futuh.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/futuh.wordpress.com/248/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=futuh.wordpress.com&blog=1371030&post=248&subd=futuh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://futuh.wordpress.com/2008/07/12/kenangan-di-smp-5-jogja-ternyata-masih-ingat%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/zanif-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hanif</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/dsc09648.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/dsc09643.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/dsc09647.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/dsc09672.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kenangan di SMP 5 Jogja: Dapat nilai ulangan PPKN 10, Rekor!</title>
		<link>http://futuh.wordpress.com/2008/07/11/kenangan-di-smp-5-jogja-dapat-nilai-ulangan-ppkn-10-rekor/</link>
		<comments>http://futuh.wordpress.com/2008/07/11/kenangan-di-smp-5-jogja-dapat-nilai-ulangan-ppkn-10-rekor/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 13:28:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<category><![CDATA[smp 5 jogja]]></category>

		<category><![CDATA[kenangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://futuh.wordpress.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[ Masa-masa SMP, masa dimana banyak pengalaman yang menarik, konyol, juga mendewasakan. Sayangnya saat itu aku masih lugu (hehehe…^_^), jadi maklum jika banyak hal konyol yang dilakukan. Salah satunya adalah mencontoh saat ulangan yang membuat kapok. Biasanya sih nggak nyonto (bener!). Tapi bu Endang dengan PPKNnya memang pelajaran hapalan paling njelimet dan mumet. Ulangannya didekte, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><a href="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/smp-5-jogja-depan.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-256" src="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/smp-5-jogja-depan.jpg?w=128&h=90" alt="" width="128" height="90" /></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> Masa-masa SMP, masa dimana banyak pengalaman yang menarik, konyol, juga mendewasakan. Sayangnya saat itu aku masih lugu (hehehe…^_^), jadi maklum jika banyak hal konyol yang dilakukan. Salah satunya adalah mencontoh saat ulangan yang membuat kapok. Biasanya sih nggak nyonto (bener!). Tapi bu Endang dengan PPKNnya memang pelajaran hapalan paling njelimet dan mumet. Ulangannya didekte, kita disuruh milih a,b,c,d di kertas ulangan. Nah, saat itu kelas 2E ada ujian PPKN dapat bocoran jawaban dari kelas 2G yang sudah ulangan jam pelajaran sebelumnya. Semua teman ikut-ikutan. kami beri tanda titik di option jawaban di kertas ulangan. Wah, karena semua ikut, jadi rugi kalo nggak turut serta dalam perbuatan curang itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span id="more-255"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ketika ulangan, sambil mendengarkan soal yang dibacakan,<span> </span>kita cocokkan jawaban sekiranya menurut kita benar dengan kunci jawaban tadi. Tak dinyana dan disangka, ternyata jawabanku cocok semua dengan kunci jawaban </span><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span><span style="font-family:Arial;">^_^</span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">. Setelah selesai, kertas ulangan digeser dalam beberapa hitungan dan dikoreksi. Setelah koreksi selesai, maka diabsenlah siswa-siswi untuk memasukkan nilainya. Dipanggillah, Aditya! 9,5. Radit! 9,75. Risang 9,5. Pokoknya temen2 sekelas banyak yang dapet sembilan. Hanya koma yang membedakan. Bu Endang pun pada awalnya terkagum-kagum dengan nilai yang bagus dan memuji-muji. Tapi setelah hampir selesai ya curiga juga, ulangan yang biasanya 6,7,8 dan 9, tiba-tiba jadi rata-rata 9. Padahal kan ulangan PPKN selain soalnya yang nggak mutu, jawabannya juga aneh …hehehe ^_^ kadang kita juga hilang konsentrasi karena soal hanya dibacakan. Tibalah giliran terakhir, nomor absenku terakhir No : 40, Zainuri Hanif! Sepuluh bu! Wueeee…Hebat&#8230;hebat! Kelas pun sangat riuh dengan tepukan dan ucapan selamat karena aku yang nomor terakhir mendapat nilai tertinggi 10 (bulat), satu-satunya di kelas E dan mungkin juga di semua kelas 2 se-SMP 5 Jogja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span> </span>Ternyata teman-teman sengaja menyalahkan jawaban 1,2 atau 3 soal sehingga tidak begitu ketahuan nyonteknya. Sehingga dapat 9,25; 9,50<span> </span>dan maksimal 9,75. Lha aku? Karena tidak berpengalaman dan merasa jawaban kunci dan soal yang diberikan cocok, mencentang sebagaimana tanda yang diberikan. Nggak enak juga, tapi gimana lagi, sudah kepalang basah…. Jadilah seolah-olah satu-satunya tersangka. Nilai 10, banggakah? Tidak!<span> </span>Nilai 10 yang membuat kapok. <strong>[] zh</strong></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/futuh.wordpress.com/255/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/futuh.wordpress.com/255/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/futuh.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/futuh.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/futuh.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/futuh.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/futuh.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/futuh.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/futuh.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/futuh.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/futuh.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/futuh.wordpress.com/255/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=futuh.wordpress.com&blog=1371030&post=255&subd=futuh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://futuh.wordpress.com/2008/07/11/kenangan-di-smp-5-jogja-dapat-nilai-ulangan-ppkn-10-rekor/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/zanif-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hanif</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://futuh.files.wordpress.com/2008/07/smp-5-jogja-depan.jpg?w=128" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Yang Dinantikan</title>
		<link>http://futuh.wordpress.com/2008/07/10/yang-dinantikan/</link>
		<comments>http://futuh.wordpress.com/2008/07/10/yang-dinantikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 01:37:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Abdullah Azzam]]></category>

		<category><![CDATA[Instanbul]]></category>

		<category><![CDATA[Konstanstinopel]]></category>

		<category><![CDATA[penaklukan Islam]]></category>

		<category><![CDATA[perang salib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://futuh.wordpress.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[ Kami benar-benar merindukan suatu hari saat Allah menaklukkan Roma –ibukota Nasrani di jagad ini- bagi kaum muslimin, hal mana Rasulullah SAW telah mengabarkan bahwa kota ini akan ditaklukkan setelah ditaklukkannya konstantinopel. 
 Ketika kami berada di sekeliling Rasulullah SAW dan asyik menulis, tiba-tiba beliau ditanya, ‘Kota manakah yang akan ditaklukkan terlebih dahulu? Konstanstinopel ataukah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span> </span>Kami benar-benar merindukan suatu hari saat Allah menaklukkan Roma –ibukota Nasrani di jagad ini- bagi kaum muslimin, hal mana Rasulullah SAW telah mengabarkan bahwa kota ini akan ditaklukkan setelah ditaklukkannya konstantinopel. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span> </span>Ketika kami berada di sekeliling Rasulullah SAW dan asyik menulis, tiba-tiba beliau ditanya, ‘Kota manakah yang akan ditaklukkan terlebih dahulu? Konstanstinopel ataukah Roma? Beliau menjawab, ‘Kotanya Heraklius akan ditklukkan lebih dulu.’ Yaitu Konstantinopel (HR. Imam Ahmad dalam musnad 2/176 yang dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dari ‘Abdullah bin Amru bin Ash ra).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span> </span></span><span id="more-243"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV">Konstantinopel atau Instanbul (yang berarti negeri Islam) telah takluk di tangan Sultan Muhammad Al Fatih. Saat itu Sultan Al Fatih telah bersiap-siap untuk menaklukkan Roma. Dan Eropa pun ditakuti kegelisahan dan kengerian yang terbukti dengan gereja-gereja di Eropa pada umumnya dan Roma pada khususnya terus-menerus membunyikan loncengnya selama tiga hari berturut-turut sebagai tanda suka cita menyambut kematian Sultan Muslim yang agung itu.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span> </span>Kami menunggu hari seperti hari-hari itu dengan sangat cemas dan gelisah. Sesungguhnya kemenangan Islam adalah harapan tertinggi yang menjadi cita-cita seseorang supaya matanya menjadi sejuk di dunia karenanya. <strong>[] zh</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><em>Sebagai mana diringkas dari Dr. Abdullah Azzam, Penawar Lelah Pengemban Dakwah</em></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/futuh.wordpress.com/243/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/futuh.wordpress.com/243/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/futuh.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/futuh.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/futuh.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/futuh.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/futuh.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/futuh.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/futuh.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/futuh.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/futuh.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/futuh.wordpress.com/243/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=futuh.wordpress.com&blog=1371030&post=243&subd=futuh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://futuh.wordpress.com/2008/07/10/yang-dinantikan/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/zanif-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hanif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelajaran Buat Kita</title>
		<link>http://futuh.wordpress.com/2008/06/25/pelajaran-buat-kita/</link>
		<comments>http://futuh.wordpress.com/2008/06/25/pelajaran-buat-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 02:54:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<category><![CDATA[anak jalanan]]></category>

		<category><![CDATA[kisah inspirasional]]></category>

		<category><![CDATA[tarbawi]]></category>

		<category><![CDATA[terenyuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://futuh.wordpress.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[ 
Kisah dari Tarbawi Community
   
Kisah Dua Manusia Super Ibukota tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki mengarungi untuk mencoba menaklukkan ibukota negeri ini.
Semoga kita selalu diingatkan, sekedar berbagi cerita di forum orang -orang super dalam keindahan hari ini.

 
Siang itu 13 Pebruari 2008, tanpa sengaja saya bertemu dua manusia super. Mereka makhluk - makhluk kecil, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;color:#ff0000;font-family:Arial;">Kisah dari Tarbawi Community</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span> <span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kisah Dua Manusia Super Ibukota tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki mengarungi untuk mencoba menaklukkan ibukota negeri ini.</p>
<p>Semoga kita selalu diingatkan, sekedar berbagi cerita di forum orang -orang super dalam keindahan hari ini.</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Siang itu 13 Pebruari 2008, tanpa sengaja saya bertemu dua manusia super. Mereka makhluk - makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberagan Harmoni, dua sosok kecil berumur kira - kira delapan dan sepuluh tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span id="more-241"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk <span class="yshortcuts">Jakarta</span> saya hanya mengangkat tangan lebar - lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan &#8220;Terima kasih Om&#8230;!&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dan saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka. Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki - laik lain itupun menolak dgn gaya yang sama dgn saya, lagi – lagi sayup - sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka, kantong hitam tempat stock tissue daganggan mereka tetap teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin <span class="yshortcuts">Jakarta</span>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Saya melewatinya dengan lirikan ke arah dalam kantong itu, dua pertiganya terisi tissue putih berbalut plastik transparan. Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayut di langit <span class="yshortcuts">Jakarta</span>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8220;Terima kasih ya Mbak, semuanya dua ribu lima ratus rupiah!&#8221; tukas mereka, tak lama si wanita meronggoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8220;Maaf, ngak ada kembaliaanya. .. ada uang pas nggak Mbak?&#8221; mereka menyodorkan kembali uang tersebut, si Mbak menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih besar menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8220;Om boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan&#8230;? suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merongoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian Food Court sebesar empat ribu rupiah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8220;Nggak punya, tungkas saya&#8230;!&#8221; lalu tak lama si wanita berkata &#8220;Ambil saja kembaliannya, dik&#8230;!&#8221; sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Si wanita kaget setengah berteriak ia bilang &#8220;Sudah buat kamu saja, gak apa - apa ambil saja&#8230;!&#8221; namum mereka berkeras mengembalikan uang tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8220;Maaf Mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan.. !&#8221; Akhirnya uang itu diterima si wanita tersebut karena si kecil pergi meninggalkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu di genggam saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar &#8220;Om.. tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek..!&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8220;Eeeeh.. nggak usah&#8230; nggak usah&#8230; biar aja&#8230;, nih&#8230;!&#8221; saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak satunya, &#8220;Nanti dulu om, biar ditukar dulu&#8230; sebentar&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8220;Nggak apa - apa&#8230;, itu buat kalian&#8221; lanjut saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8220;Jangan&#8230; jangan om, itu uang om sama Mbak yang tadi juga&#8221; anak Itu bersikeras.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8220;Sudah nggak apa - apa&#8230;. saya ikhlas, Mbak tadi juga pasti ikhlas!&#8221; saya berusaha menghalangi, namum ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8220;Ini deh Om &#8230;. kalau kelamaan, maaf ya&#8230;&#8221; ia memberikan saya 8 pack tissue.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8220;Lho buat apa&#8230;?&#8221; saya terbenggong. . </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8220;Habis teman saya lama sich Om.. maaf tukar pakai tissue aja dulu&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Walau dikembalikan ia tetap menolak. Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8220;Terima kasih Om&#8230;!&#8221; mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup - sayup terdengar percakapan.. ..&#8221;Duit Mbak tadi bagaimana ya..?&#8221; suara kecil yang lain menyahut &#8220;Lu hafal kan orangnya, kali aja kita ketemu lagi ntar kita berikan uangnya&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Percakapan <span class="yshortcuts">itu</span> sayup – sayup menhilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribuperasaan. Tuhan &#8230;. hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan <span class="yshortcuts">Jakarta </span>membuat saya trenyuh dan terharu, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta tap dengan berdagang tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum akil balik, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu sangat belia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun berkurang rejeki kita meski dalam rejeki itu sebetulnya ada hak atau milik orang lain&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8220;Usia memang tidak menjamin kita menjadi bijaksana tapi kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">`YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO`</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">`ENGKAU HANYA SEMULIA YANG ENGKAU KERJAKAN</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><br />
<em>************ ********* ********* ********* ********* *******</em></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">************ ********* ********* ********* ********* *******</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><br />
<strong><span style="color:#0000ff;">Hidup akan menjadi lebih mudah dan bermakna ketika kita menganggap bahwa hidup itu mudah<span>  </span>dan penuh makna</span></strong></span></em>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="font-size:11pt;color:#0000ff;font-family:Arial;"></p>
<p></span></em></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/futuh.wordpress.com/241/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/futuh.wordpress.com/241/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/futuh.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/futuh.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/futuh.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/futuh.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/futuh.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/futuh.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/futuh.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/futuh.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/futuh.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/futuh.wordpress.com/241/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=futuh.wordpress.com&blog=1371030&post=241&subd=futuh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://futuh.wordpress.com/2008/06/25/pelajaran-buat-kita/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/zanif-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hanif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mungkin Kehidupan di Akherat Sana Lebih Baik</title>
		<link>http://futuh.wordpress.com/2008/06/25/mungkin-kehidupan-di-akherat-sana-lebih-baik/</link>
		<comments>http://futuh.wordpress.com/2008/06/25/mungkin-kehidupan-di-akherat-sana-lebih-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 02:53:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<category><![CDATA[BBM]]></category>

		<category><![CDATA[dampak BBM]]></category>

		<category><![CDATA[kisah inspirasional]]></category>

		<category><![CDATA[krisis minyak]]></category>

		<category><![CDATA[tarbawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://futuh.wordpress.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[ 
Ini ada cerita dari milis sebelah beberapa waktu yang lalu…Judul aslinya adalah “Zalimnya Pemerintahan Ini.” Namun, saya lebih sreg dengan judul “Mungkin Kehidupan di Akherat Sana Lebih Baik.” Bukan bermaksud mengganti tujuan penulis menuliskan kisahnya, bukan! Hanya saja apa yang terjadi, menurut saya karena memang keadaan kita sedang prihatin. Insya Allah pemerintah tidak semua jelek, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ini ada cerita dari milis sebelah beberapa waktu yang lalu…Judul aslinya adalah <strong>“Zalimnya Pemerintahan Ini.” </strong><span>Namun, </span>saya lebih sreg dengan judul <strong>“Mungkin Kehidupan di Akherat </strong></span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sana</span></strong><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> Lebih Baik.”</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> Bukan bermaksud mengganti tujuan penulis menuliskan kisahnya, bukan! Hanya saja apa yang terjadi, menurut saya karena memang keadaan kita sedang prihatin. Insya Allah pemerintah tidak semua jelek, hanya saja pilihan sulit memang harus diambil diantara pilihan lain yang lebih sulit. Banyak melihat “ke bawah” membuat kita bersyukur dengan apa yang sudah kita nikmati. Semoga memang kita selalu menjadi manusia-manusia pembelajar sampai akhir hayat nanti….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">______________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sepulang dari pengajian rutin beberapa hari lalu, saya berdiri di tepi trotoar daerah Klender. Angkot yang ditunggu belum juga lewat, sedang matahari kian memancar terik. Entah mengapa, kedua mata saya tertarik untuk memperhatikan seorang bapak tua yang tengah termangu di tepi jalan dengan sebuah gerobak kecil yang kosong. Bapak itu duduk di trotoar. Matanya memandang kosong ke arah jalan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Saya mendekatinya. Kami pun terlibat obrolan ringan. Pak Jumari, demikian namanya, adalah seorang penjual minyak tanah keliling yang biasa menjajakan barang dagangannya di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur. &#8220;Tapi kok gerobaknya kosong Pak, mana kaleng-kaleng minyaknya?&#8221; tanya saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pak Jumari tersenyum kecut. Sambil menghembuskan nafas panjang-panjang seakan hendak melepas semua beban yang ada di dadanya, lelaki berusia limapuluh dua tahun ini menggeleng. &#8220;Gak ada minyaknya.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span id="more-239"></span>Bapak empat anak ini bercerita jika dia tengah bingung. Mei depan, katanya, pemerintah akan mencabut subsidi harga minyak tanah. &#8220;Saya bingung. saya pasti nggak bisa lagi jualan minyak. Saya gak tahu lagi harus jualan apa. modal gak ada.keterampilan gak punya..&#8221; Pak Jumari bercerita. Kedua matanya menatap kosong memandang jalanan. Tiba-tiba kedua matanya basah. Dua bulir air segera turun melewati pipinya yang cekung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8220;Maaf /dik/ saya menangis, saya benar-benar bingung. mau makan apa kami kelak.., &#8221; ujarnya lagi. Kedua bahunya terguncang menahan tangis. Saya tidak mampu untuk menolongnya dan hanya bisa menghibur dengan kata-kata. Tangan saya mengusap punggungnya. Saya tahu ini tidak mampu mengurangi beban hidupnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pak Jumari bercerita jika anaknya yang paling besar kabur entah ke mana. &#8220;Dia kabur dari rumah ketika saya sudah tidak kuat lagi bayar sekolahnya di SMP. Dia mungkin malu. Sampai sekarang saya tidak pernah lagi melihat dia.. Adiknya juga putus sekolah dan sekarang ngamen di jalan. Sedangkan dua adiknya lagi ikut ibunya ngamen di kereta. Entah sampai kapan kami begini .&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mendengar penuturannya, kedua mata saya ikut basah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pak Jumari mengusap kedua matanya dengan handuk kecil lusuh yang melingkar di leher. &#8220;/Dik/, katanya adik wartawan.. tolong bilang kepada pemerintah kita, kepada bapak-bapak yang duduk di atas </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">sana</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">, keadaan saya dan banyak orang seperti saya ini sungguh-sungguh berat sekarang ini. Saya dan orang-orang seperti saya ini cuma mau hidup sederhana, punya rumah kecil, bisa nyekolahin anak, bisa makan tiap hari, itu saja. &#8221; Kedua mata Pak Jumari menatap saya dengan sungguh-sungguh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8220;/Dik/, mungkin orang-orang seperti kami ini lebih baik mati&#8230; mungkin kehidupan di </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">sana</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> lebih baik daripada di sini yah&#8230;&#8221; Pak Jumari menerawang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Saya tercekat. Tak mampu berkata apa-apa. Saya tidak sampai hati menceritakan keadaan sesungguhnya yang dilakukan oleh para pejabat kita, oleh mereka-mereka yang duduk di atas singgasananya. Saya yakin Pak Jumari juga sudah tahu dan saya hanya mengangguk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mereka, orang-orang seperti Pak Jumari itu telah bekerja siang malam membanting tulang memeras keringat, bahkan mungkin jika perlu memeras darah pun mereka mau. Namun kemiskinan tetap melilit kehidupannya. Mereka sangat rajin bekerja, tetapi mereka tetap melarat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kontras sekali dengan para pejabat kita yang seenaknya numpang hidup mewah dari hasil merampok uang rakyat. Uang rakyat yang disebut &#8216;anggaran negara&#8217; digunakan untuk membeli mobil dinas yang mewah, fasilitas alat komunikasi yang canggih, rumah dinas yang megah, gaji dan honor yang gede-gedean, uang rapat, uang transport, uang makan, akomodasi hotel berbintang nan gemerlap, dan segala macam fasilitas gila lainnya. /Mumpung ada anggaran negara maka sikat sajalah! /</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Inilah para perampok berdasi dan bersedan mewah, yang seharusnya bekerja untuk mensejahterakan rakyatnya namun malah berkhianat mensejahterakan diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Inilah para lintah darat yang menghisap dengan serakah keringat, darah, tulang hingga sum-sum rakyatnya sendiri. Mereka sama sekali tidak perduli betapa rakyatnya kian hari kian susah bernafas. Mereka tidak pernah peduli. Betapa zalimnya pemerintahan kita ini!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Subsidi untuk rakyat kecil mereka hilangkan. Tapi subsidi agar para pejabat bisa hidup mewah terus saja berlangsung. Ketika rakyat antri minyak berhari-hari, para pejabat kita enak-enakan keliling dalam mobil mewah yang dibeli dari uang rakyat, menginap berhari-hari di kasur empuk hotel berbintang yang dibiayai dari uang rakyat, dan melancong ke luar negeri berkedok studi banding, juga dari uang rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sepanjang jalan, di dalam angkot, hati saya menangis. Bocah-bocah kecil berbaju lusuh bergantian turun naik angkot mengamen. Di perempatan lampu merah, beberapa bocah perempuan berkerudung menengadahkan tangan. Di tepi jalan, poster-poster pilkadal ditempel dengan norak. Perut saya mual dibuatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Setibanya di rumah, saya peluk dan cium anak saya satu-satunya. &#8220;Nak, ini nasi bungkus yang engkau minta.&#8221; Dia makan dengan lahap. Saya tatap dirinya dengan penuh kebahagiaan. /Alhamdulillah/ , saya masih mampu menghidupi keluarga dengan uang halal hasil keringat sendiri, bukan numpang hidup dari fasilitas negara, mengutak-atik anggaran negara yang sesungguhnya uang rakyat, atau bagai lintah yang mengisap kekayaan negara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Saat malam tiba, wajah Pak Jumari kembali membayang. Saya tidak tahu apakah malam ini dia tidur dengan perut kenyang atau tidak. Saya berdoa agar Allah senantiasa menjaga dan menolong orang-orang seperti Pak Jumari, dan memberi hidayah kepada para pejabat kita yang korup. Mudah-mudahan mereka bisa kembali ke jalan yang benar. Mudah-mudahan mereka bisa kembali paham bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabk an di mahkamah akhir kelak. Mudah-mudahan mereka masih punya nurani dan mau melihat ke bawah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mudah-mudahan mereka bisa lebih sering naik angkot untuk bisa mencium keringat anak-anak negeri ini yang harus bekerja hingga malam demi sesuap nasi, bukan berkeliling </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">kota</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> naik sedan mewah&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mudah-mudahan mereka lebih sering menemui para dhuafa, bukan menemui konglomerat dan pejabat&#8230; Mudah-mudahan mereka lebih sering berkeliling ke wilayah-wilayah kumuh, bukan ke mall&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Amien Ya Allah. 2008/4/12 NAS DIRMAN &lt;<a href="http://us.f521.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=nasdirman85@hotmail.com" target="_blank"></a><a href="mailto:nasdirman85@hotmail.com" target="_blank"><span class="yshortcuts">nasdirman85(at)hotmail.com</span></a>&gt;:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">_____________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Demikian, saya kutip tulisan sebagaimana aslinya (dengan pembetulan EYD secukupnya)…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Akhirnya, bagaimana kita menyikapinya? ….</span></p>
<p> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/futuh.wordpress.com/239/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/futuh.wordpress.com/239/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/futuh.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/futuh.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/futuh.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/futuh.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/futuh.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/futuh.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/futuh.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/futuh.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/futuh.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/futuh.wordpress.com/239/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=futuh.wordpress.com&blog=1371030&post=239&subd=futuh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://futuh.wordpress.com/2008/06/25/mungkin-kehidupan-di-akherat-sana-lebih-baik/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/zanif-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hanif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kovenan Ekosob dan Soal Pangan</title>
		<link>http://futuh.wordpress.com/2008/06/21/kovenan-ekosob-dan-soal-pangan/</link>
		<comments>http://futuh.wordpress.com/2008/06/21/kovenan-ekosob-dan-soal-pangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 10:09:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[opini]]></category>

		<category><![CDATA[teknologi pertanian]]></category>

		<category><![CDATA[ketahanan pangan]]></category>

		<category><![CDATA[krisis pangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://futuh.wordpress.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[
Melalui UU Nomor 11 Tahun 2005, pemerintah meratifikasi Kovenan Internasional Hak Ekonomi Sosial Budaya (Kovenan Ekosob). Kovenan ini antara lain berisi tentang tanggung jawab negara dalam menghormati, melindungi, dan memenuhi hak atas pangan bagi rakyatnya.
Dengan kata lain, masalah pangan merupakan hak asasi manusia yang pemenuhannya menjadi tanggung jawab negara. Konsekuensi dari ratifikasi itu adalah pemerintah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:21pt;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;letter-spacing:-0.75pt;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Melalui UU Nomor 11 Tahun 2005, pemerintah meratifikasi Kovenan Internasional Hak Ekonomi Sosial Budaya (Kovenan Ekosob). Kovenan ini antara lain berisi tentang tanggung jawab negara dalam menghormati, melindungi, dan memenuhi hak atas pangan bagi rakyatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Dengan kata lain, masalah pangan merupakan hak asasi manusia yang pemenuhannya menjadi tanggung jawab negara. Konsekuensi dari ratifikasi itu adalah pemerintah harus mengubah semua produk undang-undang (UU) yang tidak selaras dengan ketentuan Kovenan Ekosob, termasuk soal pangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"><span id="more-238"></span>Empat alasan</span></strong><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Paling tidak ada empat alasan mengapa perubahan UU pangan harus segera dilakukan. Pertama, perlindungan hak rakyat atas pangan oleh negara merupakan kewajiban hakiki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Kedua, UU dapat menjadi penjamin atas pemenuhan tanggung jawab pemerintah dalam menyejahterakan masyarakatnya melalui pemenuhan pangan yang berkesinambungan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Ketiga, krisis pangan yang melanda dunia sekarang merupakan pelajaran berharga tentang pentingnya suatu bangsa memiliki ”kedaulatan” atas pangan untuk menjamin kecukupan pangan bagi warga negaranya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Keempat, pembangunan ekonomi bisa berkelanjutan manakala pemenuhan hak dasar rakyat atas pangan terpenuhi sehingga pembangunan sektor lain dapat dilakukan dengan lebih mudah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Memang kita telah memiliki UU tentang pangan, yakni UU Nomor 7 Tahun 1996. Masalahnya adalah isi UU Pangan tersebut, selain belum sesuai dengan ketentuan Kovenan Ekosob, juga belum menyentuh keempat aspek tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Merunut ke belakang, UU ini guna mengantisipasi era globalisasi, ketika perdagangan komoditas pangan dunia dianggap sebagai peluang sekaligus ancaman bagi ekonomi bangsa. Peluang bagi komoditas pangan yang memiliki daya saing tinggi, namun ancaman bagi komoditas pangan kualitas rendah. Kondisi itu tercipta akibat ketatnya negara-negara maju dalam menentukan persyaratan kualitas dan keamanan pangan dalam sistem perdagangan global.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Ditegaskan pula, keberadaan UU Pangan ini merupakan upaya untuk mendorong industri pangan </span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"> menjadi industri modern dan mampu bersaing di pasar internasional. Melalui UU ini, diharapkan tercipta industri pangan Indonesia yang dapat memenuhi tuntutan pasar internasional, memiliki efisiensi dan produktivitas tinggi, mengaplikasikan teknologi dan manajemen modern, serta memiliki nilai tambah tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Selain itu, UU ini juga dibuat dalam rangka perlindungan terhadap masyarakat dari bahaya bahan kimia yang ada dalam produk pangan, baik yang diproduksi di luar negeri maupun dalam negeri. Hal ini dilakukan sebagai tindakan preventif mengingat semakin besarnya kemungkinan beredarnya produk pangan yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan dan keselamatan bagi masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Sistem distribusi</span></strong><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Tidak kalah penting, UU ini sebagai respons terhadap sistem distribusi dan pengadaan pangan yang kurang menjamin ketersedian yang cukup bagi penduduk </span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">. Hal ini tampak dari kecenderungan semakin sulitnya untuk memenuhi ketersediaan pangan yang cukup bagi masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Dilihat dari perspektif Kovenan Ekosob, UU Pangan jelas belum memenuhi tuntutan kovenan itu, mengingat UU ini dibuat jauh sebelum UU No 11/2005 diratifikasi. Meski penting untuk mempertanyakan mengapa sejak tahun 2005 hingga kini belum dilahirkan UU Pangan yang senapas dengan Kovenan Ekosob, hal yang lebih penting adalah bagaimana agar dapat dilahirkan UU Pangan baru yang memenuhi tuntutan hak atas pangan dan menegaskan komitmen pemerintah dalam memenuhi hak atas pangan bagi masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Seperti diketahui, UU No 7/1996 ”menghilangkan” kewajiban dan tanggung jawab negara dalam pemenuhan hak atas pangan, yakni dengan memberikan sebagian beban kewajiban itu kepada masyarakat (Pasal 45). Hal yang perlu dikritik adalah pelimpahan tanggung jawab atas ketersediaan pangan kepada masyarakat. Jika masyarakat juga harus bertanggung jawab atas kecukupan pangan, hal yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana dengan 16,8 persen penduduk miskin (tahun 200 <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> yang tidak mampu mencukupi dirinya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Kemudian, yang dimaksud dengan ”pemerintah” dalam UU ini harus lebih ditegaskan lagi, apakah pemerintah pusat atau pemerintah daerah (Pasal 60). Ketegasan ini perlu mengingat, dalam konteks otonomi daerah, justru yang memiliki peran sentral dalam pemenuhan ketersediaan pangan seharusnya pemerintah daerah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Sebaliknya dari pasal ini terkesan tugas pemerintah daerah dalam urusan pangan hanya bila diperlukan. Kejelasan peran pemerintah daerah juga akan mempertegas keharusan komitmen pemerintah daerah bersama pemerintah pusat dalam rangka menjamin kecukupan pangan bagi seluruh lapisan masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Regulasi pangan sebagai komoditas perdagangan sebagaimana diatur dalam UU No 7/1996 merupakan hal penting guna meningkatkan daya saing produk pangan nasional. Akan tetapi, pengaturan pangan dalam rangka ”pemenuhan hajat hidup orang banyak” merupakan hal mendasar yang tidak boleh diabaikan. Ini mengingat keberlangsungan pembangunan ekonomi membutuhkan keselarasan di antara keduanya, dan keselarasan itu harus tercermin dalam UU Pangan yang baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30.05pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Jika tidak, siapa yang akan menjamin 36,8 juta penduduk miskin yang tidak bisa menikmati kecukupan pangan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;text-transform:uppercase;color:black;font-family:Arial;">Opini Kompas, Sabtu, 14 Juni 2008 | </span><em><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">IRHAM Guru Besar dan Direktur Program Magister Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian UGM</span></em><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/futuh.wordpress.com/238/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/futuh.wordpress.com/238/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/futuh.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/futuh.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/futuh.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/futuh.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/futuh.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/futuh.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/futuh.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/futuh.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/futuh.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/futuh.wordpress.com/238/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=futuh.wordpress.com&blog=1371030&post=238&subd=futuh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://futuh.wordpress.com/2008/06/21/kovenan-ekosob-dan-soal-pangan/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/zanif-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hanif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Krisis Pangan dan Solidaritas</title>
		<link>http://futuh.wordpress.com/2008/06/21/krisis-pangan-dan-solidaritas/</link>
		<comments>http://futuh.wordpress.com/2008/06/21/krisis-pangan-dan-solidaritas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 10:04:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[opini]]></category>

		<category><![CDATA[teknologi pertanian]]></category>

		<category><![CDATA[ketahanan pangan]]></category>

		<category><![CDATA[krisis pangan]]></category>

		<category><![CDATA[pertanian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://futuh.wordpress.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[                                             
Indonesia adalah negara yang potensial untuk berperan besar dalam mengatasi krisis pangan dunia. Namun, kini Indonesia masih mengalami dua bentuk krisis pangan, yakni krisis pangan secara berkala (transitory/occasional food insecurity) dan kronis (chronic food insecurity).
Krisis pangan berkala terjadi karena, misalnya, adanya bencana alam, konflik sosial, fluktuasi harga, dan lain-lain. Adapun krisis pangan secara kronis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"><span>                                             </span></span></strong><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"> adalah negara yang potensial untuk berperan besar dalam mengatasi krisis pangan dunia. Namun, kini </span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"> masih mengalami dua bentuk krisis pangan, yakni krisis pangan secara berkala (transitory/occasional food insecurity) dan kronis (chronic food insecurity).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Krisis pangan berkala terjadi karena, misalnya, adanya bencana alam, konflik sosial, fluktuasi harga, dan lain-lain. Adapun krisis pangan secara kronis adalah krisis yang terjadi secara berulang-ulang dan terus-menerus. Krisis ini ditengarai adanya akses terbatas terhadap persediaan pangan disertai harga pangan yang melambung tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30pt;line-height:15pt;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"><span id="more-236"></span>Antara makro dan mikro</span></strong><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Secara makro, sebenarnya persediaan pangan di </span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"> masih mencukupi karena beberapa komoditas kebutuhan pangan di </span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"> masih dipenuhi lewat impor dari negara lain. Namun secara mikro, krisis pangan telah terjadi di tingkat keluarga, terutama di daerah-daerah pedesaan yang terpencil, terutama di kelompok masyarakat yang mengandalkan pertanian untuk hidup. Gambaran situasi mikro ini sungguh ironis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Ini bisa terjadi karena dampak kebijakan Pemerintah </span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"> di masa lalu, ketika pemerintah menerapkan tarif impor komoditas pangan rendah (lebih rendah dari ketentuan WTO) sehingga harga-harga komoditas kebutuhan pangan yang diimpor lebih rendah dari hasil pertanian lokal atau nasional. Akibatnya, petani di daerah-daerah pedesaan yang berpotensi menjadi lumbung pangan tidak bergairah mengembangkan pertanian karena pendapatan yang akan mereka dapatkan tidak menjanjikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Selain pengaruh negatif atas kebijakan pemerintah itu, pengaruh bencana alam, konflik sosial, musim kemarau, dan perubahan musim akibat pemanasan global juga berpengaruh besar terhadap kecukupan persediaan pangan di Indonesia. Krisis bahan bakar minyak dunia ikut memperburuk situasi ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Sekarang ada kecenderungan warga dunia mengalihkan tanaman pangan ke tanaman yang bisa menghasilkan biogas (bioenergi) guna memenuhi kebutuhan energi dunia. Akibatnya bisa fatal. Lumbung pangan dunia yang menjadi kebutuhan dasar akan menipis dan menyebabkan krisis pangan dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Kurangnya akses untuk mendapatkan bahan pangan dan meroketnya harga pangan menyebabkan krisis pangan di negara-negara berkembang, seperti Haiti, Banglades, Filipina, Meksiko, Nigeria, Kamerun, Somalia, Mauritania, Burkina Faso, Argentina, Etiopia, dan Indonesia (George Kombe Ngolwe, www.omiusajpic.org).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Menurut laporan hasil assessment World Food Programme (Februari 2007), daerah-daerah bekas bencana seperti pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam, Pulau Simeulue, Nias, Yogyakarta, dan sebagian Jawa Tengah mengalami krisis pangan yang akut dan krisis lapangan kerja. Meski demikian, daerah-daerah itu kini semakin membaik situasinya. Sementara krisis pangan kronis terjadi di Sumatera Utara, Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Timur dan sebagian Kalimantan Tengah, Kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua Barat, serta Maluku (www.wfp.org/odan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Krisis pangan global dan nasional ini harus mendapat perhatian serius, apalagi </span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"> termasuk negara rawan bencana. Terjadinya bencana tidak hanya menghambat produksi tanaman pangan, tetapi juga menyebabkan kebutuhan pangan kian meningkat tajam. Kebijakan impor pangan dari negara lain tidak bisa diandalkan lagi, mengingat dunia juga mengalami krisis pangan. Akibat krisis pangan global ini, setiap negara—terutama negara-negara yang potensial untuk produksi pangan— didorong untuk tidak hanya swasembada pangan, tetapi juga bisa mengekspor komoditas pangan ke negara lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30pt;line-height:15pt;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Kelompok rentan</span></strong><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Yang mengalami dampak paling besar terhadap krisis pangan global adalah masyarakat pengungsi. Mereka sama sekali bergantung pada bantuan pangan dari luar negeri atau luar daerah. Terjadinya banyak bencana di dunia dan di </span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"> tentu akan menambah jumlah orang yang dipaksa mengungsi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Dilaporkan, jumlah pengungsi (refugees maupun internally displaced person/IDP) semakin besar, sekitar 26 juta orang (Kent Garber, </span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">24/4/2008</span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">). Ini belum termasuk pengungsi korban konflik dan bencana pada akhir-akhir ini, misalnya di </span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Myanmar</span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"> dan </span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">China</span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">. Maka, jumlahnya pasti akan lebih tinggi dari yang dilaporkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Dengan adanya krisis pangan dunia tersebut, para pekerja kemanusiaan khawatir akan besarnya dampak buruk bagi para pengungsi di tempat-tempat pengungsian mereka dan para pengungsi yang baru saja kembali ke tempat/daerah/negara asal mereka. Situasi ini akan diperburuk dengan adanya fenomena akhir-akhir ini, yakni negara produsen pangan membatasi ekspor mereka demi stabilitas harga pangan dalam negeri dan proteksi persediaan pangan di dalam negaranya masing-masing tanpa memperhitungkan pentingnya solidaritas kemanusiaan dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Sebagai negara yang potensial untuk produksi pangan, </span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"> hendaknya tidak hanya menargetkan swasembada pangan untuk masyarakat di dalam negeri sendiri, tetapi demi panggilan kemanusiaan dan solidaritas global juga mampu mengekspor komoditas pangan ke luar negeri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:30pt;line-height:15pt;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Target ini perlu didukung kebijakan pemerintah berpihak kepada petani di pedesaan, yang selama ini menjadi ”korban” kebijakan yang tidak memihak mereka. Dengan memihak petani komoditas pangan, bukan hanya mereka diharapkan bisa menghadapi krisis pangan dunia, tetapi juga bisa mengembangkan solidaritas kemanusiaan global, terutama pada kelompok rentan seperti pengungsi di kamp-kamp dan mereka yang baru saja kembali ke daerah/tempat/negara asal. Semoga suara mereka mendapat perhatian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;">Diambil dari Opini Kompas Sabtu 14 Juni 2008, oleh : Adrianus Suyadi SJ Direktur Nasional Jesuit Refugee Service Indonesia</span></em><span style="font-size:11pt;color:black;font-family:Arial;"></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/futuh.wordpress.com/236/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/futuh.wordpress.com/236/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/futuh.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/futuh.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/futuh.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/futuh.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/futuh.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/futuh.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/futuh.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/futuh.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/futuh.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/futuh.wordpress.com/236/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=futuh.wordpress.com&blog=1371030&post=236&subd=futuh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://futuh.wordpress.com/2008/06/21/krisis-pangan-dan-solidaritas/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/zanif-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hanif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengin Sekolah Terus….</title>
		<link>http://futuh.wordpress.com/2008/06/20/pengin-sekolah-terus%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://futuh.wordpress.com/2008/06/20/pengin-sekolah-terus%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 10:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[opini]]></category>

		<category><![CDATA[dosen]]></category>

		<category><![CDATA[kerja]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[profesional]]></category>

		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://futuh.wordpress.com/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[
Waktu kita tidak cukup untuk membaca semua buku dan mengikuti berbagai peristiwa dunia. Tapi kita bisa tetap menguasai banyak ilmu dan tahu banyak hal melalui sistematika pembelajaran yang benar. Untuk itu, kita perlu seorang guru, kita perlu seorang ulama, kita perlu seorang yang membimbing kita untuk mengetahui struktur dari setiap ilmu dan cara mempelajarinya.
 
Kerja atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:center;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><em>Waktu kita tidak cukup untuk membaca semua buku dan mengikuti berbagai peristiwa dunia. Tapi kita bisa tetap menguasai banyak ilmu dan tahu banyak hal melalui sistematika pembelajaran yang benar. Untuk itu, kita perlu seorang guru, kita perlu seorang ulama, kita perlu seorang yang membimbing kita untuk mengetahui struktur dari setiap ilmu dan cara mempelajarinya.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kerja atau Sekolah lagi ya?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Pilihan itu pasti ada dalam benak semua orang yang lulus kuliah. Begitu juga dengan saya. Tak pelak lagi perlu sebuah pertimbangan serius mengenai hal ini. Dari merenung, bertafakkur ^_^, sampai diskusi kesana kemari. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Beberapa teman sudah ada yang berniat sekolah. Bahkan ada yang keterima menjadi dosen yang mau tidak mau secepatnya harus kuliah karena bila tidak, bisa lepas tuh status dosennya. Beberapa lagi milih kerja dulu, baru dalam waktu 2-3 tahun mendatang kuliah. Syukur-syukur bisa menjadi dosen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            <span id="more-235"></span></span>Nah, dua-duanya ada sisi positif dan negatifnya. Tapi saya sendiri memilih bekerja dulu. Mencari pengalaman hidup baru setelah itu sekolah lagi. Menjadi dosen memang menarik, tapi menjadi entrepreneurship dan berkiprah dalam dunia professional bagi saya lebih menarik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Nah, saya melihat kualitas dosen saya di UGM yang sudah pernah bekerja dengan yang dari awal merintis karir menjadi dosen dan meraih gelar doctor dari luar negeri dengan cepat, kualitasnya sangat berbeda. Tampak yang pernah bekerja dan berkiprah di lapangan gaya mengajarnya enak, mengena dan lugas. Walaupun sampai sekarang ada yang belum S3. Tapi salut! Beliau sangat jelas dalam menerangkan, sangat kreatif dalam mengkondisikan kelas dan kisah dan analisisnya begitu menarik dan tajam. Dari sisi ilmiah, tentu lebih bagus dosen yang sudah S3. Dan Alhamdulillah saya mengalami itu semua dengan baik. Jadi pas TA ya milih yang bener-bener akademisi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Lebih Fokus Sekolah (lagi) dengan Kejelasan Karir Terlebih Dahulu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Seorang teman di Biologi UGM pernah menyarankan bahwa jika mau sekolah lagi, S2 dan seterusnya sebaiknya punya centhelan (pegangan) dulu. Dosennya mewanti-wanti dan memberikan ibroh bahwa temannya yang lulus doctor (S3) dari Jepang dengan biaya sendiri, pulang ke Indonesia malah menganggur. Tidak ada institusi yang begitu lulus langsung mau menerima dan memperkerjakannya. Beda jika sudah menjadi dosen, maka ilmu yang diambil di S2 dan S3 jelas. Atau disekolahkan lagi oleh perusahaan yang menjadi tempat kita bernaung. Wah, pengih!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sekolah atau Belajar (lagi), Akan Terus Memotivasi Kita</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Belajar terus tentu tidak harus melulu sekolah. Namun ada sebuah nasihat dari senior saya bahwa dia dan istrinya ingin sekolah agar selalu memotivasi untuk menyekolahkan putranya nanti setinggi mungkin. Ia akan lebih menghargai sebuah proses pembelajaran manakala ia juga mengalami itu. Yaitu senantiasa belajar dan belajar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Namun, jangan lupa instrument belajar yang tidak pernah lepas darinya adalah membaca. Dengan rajin membaca, maka tradisi ilmiah akan selalu muncul dalam menyikapi berbagai peristiwa. <strong>Sudah saatnya kita berhenti membaca dari apa yang kita senangi, dan beralih membaca pada apa yang seharusnya kita baca. [] hnf</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/futuh.wordpress.com/235/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/futuh.wordpress.com/235/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/futuh.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/futuh.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/futuh.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/futuh.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/futuh.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/futuh.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/futuh.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/futuh.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/futuh.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/futuh.wordpress.com/235/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=futuh.wordpress.com&blog=1371030&post=235&subd=futuh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://futuh.wordpress.com/2008/06/20/pengin-sekolah-terus%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/zanif-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hanif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Duh, Mahalnya Mau Sekolah</title>
		<link>http://futuh.wordpress.com/2008/06/20/duh-mahalnya-mau-sekolah/</link>
		<comments>http://futuh.wordpress.com/2008/06/20/duh-mahalnya-mau-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 10:02:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[opini]]></category>

		<category><![CDATA[mahalnya pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://futuh.wordpress.com/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[
Sering, bahkan beberapa kali seorang bapak mengeluh kesulitan biaya sekolah, bahkan ada juga yang sampai meminta bantuan anggota dewan kota Jogja segala, juga (lagi-lagi) agar anaknya bisa sekolah. Padahal ketika menghadap untuk diadvokasi ke Dinas P&#38;P terkait, sang bapak dengan entengnya berkeluh kesah sambil merokok. Memang anaknya sulit bayar sekolah, tapi itu karena bapaknya lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sering, bahkan beberapa kali seorang bapak mengeluh kesulitan biaya sekolah, bahkan ada juga yang sampai meminta bantuan anggota dewan kota Jogja segala, juga (lagi-lagi) agar anaknya bisa sekolah. Padahal ketika menghadap untuk diadvokasi ke Dinas P&amp;P terkait, sang bapak dengan entengnya berkeluh kesah sambil merokok. Memang anaknya sulit bayar sekolah, tapi itu karena bapaknya lebih mementingkan uangnya untuk merokok. Kalau sehari bisa habis 1 bungkus, setara dengan Rp 7 ribu, maka sebulan bisa mencapai Rp 210 ribu. Padahal SPP bulanan sang anak Rp 150 ribu rupiah. Toh sang bapak kukuh tetep meminta beasiswa. Menganggap pendidikan mahal sehingga perlu minta beasiswa, tapi malah merokok jalan terus? benar-benar aneh! <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Memang secara umum pendidikan di Indonesia masih mahal, jauh dari rata-rata pendapatan keluarga pada umumnya. Tapi kadang beberapa keluarga salah menyikapi dengan menganggap pendidikan nomor sekian, tapi hal-hal lain yang sebenarnya tidak penting malah didahulukan, seperti merokok tadi (yang jelas bagi saya rokok sangat tidak penting bahkan harus dihapuskan dari muka bumi ini…hehehe :). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span id="more-234"></span>Wapres Jusuf Kalla dalam beberapa kesempatan sering geram akibat mendapatkan protes mengenai pendidikan. Khususnya mahalnya pendidikan. Oleh karena itu dalam beberapa forum sering beliau mengangkat masalah ini. Dalam seminar yang diselenggarakan oleh IDI (Ikatan Dokter Indonesia), Yusuf Kalla mewanti-wanti agar kualitas dokter Indonesia ditingkatkan, agar orang-orang berduit tidak membuang uangnya ke luar negeri (seperti Singapura). Wapres pun juga menyadari untuk meningkatkan kualitas itu butuh biaya. Nah, lazim diketahui public bahwa menjadi dokter itu biayanya sangat besar, apalagi ambil spesialisasi. Nah, kalo begini ujung pangkalnya memang berpangkal dari pemerintah. Bagaimana mensubsidi pendidikan agar terjangkau semua pihak, bahkan gratis kalau perlu. Yah, daripada habis dibakar untuk subsidi BBM dan menyuplai klub sepak bola yang hanya menghibur sesaat ^_^</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Perubahan Dimulai dari Pendidikan Ibu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Kemiskinan dan kebodohan adalah hal yang menurun, bahkan bisa dibilang diwariskan. Ibu yang kurang gizi saat hamil, janinnya mengalami perkembangan yang tidak optimal. Ketika bayi itu lahir dan tidak memperoleh nutrisi, vitamin, mineral dan imunisasi, maka perkembangan otaknya lamban dan bisa terserang berbagai penyakit. Nah, kalaupun itu semua tidak menjadi masalah, namun sang ibu bodoh, tidak mengerti dengan baik ilmu-ilmu dan berpengetahuan terbatas (ironis </span><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>L</span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> ), maka dia tidak bisa mengajarkan banyak hal bermanfaat pada anaknya. Padahal waktu paling besar anak adalah bersama ibunya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-